<
Show/Hide
  1. Home
  2. Lingkungan
  3. Perempuan kerap diabaikan dalam pembahasan PTFI
  • Rabu, 18 Juli 2018 — 20:19
  • 1233x views

Perempuan kerap diabaikan dalam pembahasan PTFI

Salah satu tokoh perempuan suku Kamoro, Mathea Mamoyao - Jubi. Dok
◕‿◕Mathea Mamoyao mengatakan, belakangan ini keterwakilan perempuan tak pernah lagi dilibatkan dalam pembahasan hal terkait PTFI, termasuk divestasi saham.◕‿◕

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Satu diantara tokoh perempuan suku Kamoro, suku yang terkena dampak langsung dari limbah PT Freeport Indonesia (PTFI), Mathea Mamoyao mengatakan, belakangan ini keterwakilan perempuan tak pernah lagi dilibatkan dalam pembahasan hal terkait PTFI, termasuk divestasi saham.

Sekretaris komisi bidang pemerintahan, politik, hukum dan HAM DPR Papua itu mengatakan, pada era 2000-2002, keterwakilan perempuan dari suku pemilik ulayat area penambangan Freeport dan suku yang terkena imbas limbah tambang emas dan tembaga yang beroperasi di Kabupaten Mimika, Papua itu masih sering dilibatkan ketika ada pembahasan terkait PTFI. Namun selepas itu hingga kini, keterwakilan perempuan seakan tak pernah lagi diberi ruang.

"Saya tahu banyak hal ini, karena sebelum duduk di DPR Papua, saya mengadvokasi berbagai masalah yang dialami suku saya, suku Kamoro, termasuk terkait perempuan dan anak," kata Mathea Mamoyao kepada Jubi, Rabu (18/7/2018).

Namun sejak era 2002, hingga kini, perempuan tak pernah lagi dilibatkan. Beberapa kali pembahasan kontrak karya, perempuan seakan diabaikan haknya untuk bersuara. Pihak terkait dianggap tidak terbuka.

Mathea tak ingin ada anggapan perempuan tak akan mampu bersuara, sehingga tak dilibatkan. Menurutnya, justru sebagai seorang ibu, perempuan tahu kebutuhan kaumnya, anaknya, serta bagaimana keberlangsungan generasi mereka ke depan.   

Dampak dari limbah PTFI kata Mathea, juga telah menghilangkan hutan sagu dan mencemari sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat Kamoro. Ikan yang ada di sungai sekitar area pembuangan limbah Freeport banyak yang mati. Tak dapat lagi di konsumsi. Limbah perusahaan telah merusak ekosistem sungai. 

"Dampaknya kepada perempuan dan anak, tentu dari sisi kesehatan dan gizi. Masyarakat, terutama kaum perempuan sulit memenuhi kebutuhan gizi anaknya," ucapnya.

Di sisi lain, kondisi pendidikan dan pelayanan kesehatan di wilayah suku Kamoro masih jauh dari harapan. Kondisi ini tentu mengancam keberlangsungan hidup generasi suku Kamoro pada masa mendatang.

Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) wilayah Papua, Ais Rumbekwan kepada Jubi beberapa waktu lalu mengatakan, pemerintah Indonesia dan PT Freeport harus memperbaiki lingkungan yang telah rusak akibat operasi penambangan. 

Apalagi, Freeport pernah menyatakan pelanggaran Hak Asasi Manusia(HAM) dan pencemaran lingkungan merupakan tanggungjawab pemerintah Indonesia.
Katanya, Yayasan Lingkungan Hidup (YALI) Papua pernah melakukan studi banding dan menemukan adanya unsur logam berat berbahaya dalam makanan lokal masyarakat Kamorro akibat sedimentasi tailing.

Menurut pengakuan warga sekitar lokasi Freeport, sebelum perushaan Amerika melakukan penambangan, aktivitas masyarakat tidak terganggu. Kini hasil tangkapan ikan cepat busuk.

"Perairan yang dulu gampang dilalui, kini semakin dangkal akibat sedimentasi tailing," ucapnya. (*) 

Reporter :Arjuna Pademme
Editor : Edho Sinaga
Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Danau Sentani jadi sumber air bersih, Bupati Jayapura: Perlu dikaji khusus

Selanjutnya

Bank sampah Kenambai Umbai, berawal dari ingin melihat Jayapura bersih

Komen Saya

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua