<
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Pasukan polisi di Nduga hanya bikin trauma masyarakat
  • Rabu, 18 Juli 2018 — 18:24
  • 846x views

Pasukan polisi di Nduga hanya bikin trauma masyarakat

Aktivis BEM Uncen dan PMKRI saat memberikan keterangan pers. dok.jubi
◕‿◕apabila aparat keamanan masih melakukan pendekatan yang sama kepada masyarakat Papua, tentu mereka tidak akan percaya kepada negara◕‿◕

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Cendrawasih (BEM UNCEN) Paskalis Boma, meminta Polda Papua menarik pasukannya dari kabupaten Nduga. Keberadaan pasukan di sana dinilai hanya akan menambah trauma masyarakat.

Boma mengatakan, penyerangan polisi yang terjadi di Langguru dan Kenyam pada 11 Juli 2018 lalu, sudah sangat berlebihan. ”Nduga bagian dari Indonesia. Kalau menyerang Tentara Pembebasan Nasional dan Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM), jangan sampai masyarakat sipil dikorbankan,” katanya kepada Jubi, Rabu, (19/7/2018).

Boma menilai, penyerangan aparat keamanan di Kabupaten Nduga itu juga sangat tidak masuk akal. Karena aparat menggunakan peralatan perang. “Masyarakat tidak punya peralatan perang untuk melawan, dan tidak mungkin mereka lakukan,sebab mereka warga indonesia,” katanya.

Katanya, masyarakat Nduga punya trauma kepada aparat keamanan. Dia kasih contoh penyanderaan di Mapenduman, dimana masyarakat sipil dibantai, ternaknya pun dihabiskan. Saat ini, negara belum menyelesaikan kasus itu .

“Peristiwa itu jadi luka batin dan berakar di masyarakat di Nduga, sehingga ada muncul perasaan takut masih ada di Nduga,” katanya.

Dia meminta aparat keamanan menggunakan pendekatan tanpa kekerasan dan militeristik, misalkan pendekatan antropologis

Menurutnya, apabila aparat keamanan masih melakukan pendekatan yang sama kepada masyarakat Papua, tentu mereka tidak akan percaya kepada negara. “Kalau pendekatan militeristik, orang Papua tidak akan tenang,” katanya.

Di tempat sama, dan Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Jayapura, Benediktus Bame menambahkan, ada langkah lain yang bisa diambil oleh pemerintah terhadap OMP atau TPN dengan pendekatan yang lebih manusiawi.

“Perlakuan aparat keamanan ini sangat berlebihan, sebab masyarakat akan semakin takut dengan sikap tidak terhormat mereka,” katanya.

Menurutnya, pemerintah harus menurunkan psikolog, konselor ke Nduga untuk menghilangkan trauma anak-anak di bawah umur. “Sebab mereka akan terus mengingat kejadian tersebut dan akan menjadi trauma berkepanjangan,” katanya.(*)

 

Reporter :Hengky Yeimo
Editor : Syam Terrajana
Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Papua kekurangan tenaga penyuluh pertanian

Selanjutnya

Separuh tanah Papua sudah jadi milik perusahaan?

Komen Saya

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua