Muatan Lokal, Upaya Melestarikan Bahasa Daerah di Papua

share on:

Peta penyebaran bahasa di tanah Papua - Jubi/IST
Peta penyebaran bahasa di tanah Papua – Jubi/IST
Jayapura, Jubi – Salah satu model yang diterapkan dalam upaya memelihara dan melestarikan bahasa daerah di Papua yaitu menerapkan pembelajaran bahasa daerah di sekolah formal dalam bentuk muatan lokal.

Dosen Antropologi Universitas Cenderawasih Gerdha K. Numberi berpendapat program pendidikan yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam dan lingkungan budaya, serta kebutuhan daerah dan wajib dipelajari murid di daerah tersebut.

Menurutnya kurikulum muatan lokal sesuai Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan nomor 0412/U/1987 tanggal 11 Juli 1987. Pelaksanaan telah dijabarkan dalam keputusan Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Mengah nomor 137/-C/kep/M/87 tertanggl 7 Oktober 1987.
Kurikulum 1994 kurikulum muatan lokal adalah materi pelajaran yang diajarkan secara terpisah menjadi kajian tersendiri.

“Untuk itu beberapa pokok pertimbangan dalam menerapkan kurikulum tersebut. Pertama bahasa daerah di Papua memiliki karakter yang berbeda, baik pada tingkat linguistik maupun pada unsur-unsur suprasegemental (sesuatu yang menyertai fonem berupa tekanan suara dan getaran suara yang menunjukkan emosi tertentu),” katanya.

Kepala Balai Bahasa Sastra dan Budaya Provinsi Papua dan Papua Barat, Supriyanto Widodo, Selasa (13/11/2012) menyatakan di Teluk Humbold ini ada bahasa Sentani, bahasa Nafri, bahasa Kayu Polu, bahasa Skouw, bahasa Tobati-Enggros dan bahasa Moso. Dari enam bahasa ini, hanya Bahasa Moso yang tidak punah, sementara 5 bahasa lainnya sudah mulai punah.

Undang-undang nomor 24 tahun 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara serta lagu kebangsaan menyebutkan agar bahasa lokal dilestarikan.

Gerdha K. Numberi menilai punahnya bahasa daerah di Papua disebabkan karena arus informasi, teknologi dan komunikasi serta migrasi.

Berbagai persoalan tersebut menarik untuk dikaji agar dapat menemukan model penanganan berbagai persoalan kebahasaan untuk tetap berdiri dengan unsur budaya sejajar dengan budaya lainnya.

“Sangat penting bahwa satu bahasa daerah yang punah tidak hanya berimplikasi pada dimensi kebahasaan itu sendiri, tetapi secara langsung berimplikasi pada dimensi kebudayaan masyarkat satu penutur bahasa,” kata Gerdha.

Minat peserta didik dan tersedianya pengajaran yang khawalitas, pengajaran tidak hanya memilki kemampuan linguistik, tetapi juga pemahaman soal budaya dari pemilik bahasa daerah.

Pegiat budaya Papua, Andi Tagihuma mengatakan bahasa di Papua dan Papua Barat menuju kepunahan. Oleh sebab itu, Dinas Pendidikan se-Tanah Papua harus serius menangani kurikulum muatan lokal di sekolah.

“Tanpa melestarikan dan menjaga nilai kita akan menjadi bangsa yang jalan tanpa arah. Seperti layang-layang yang putus dari talinya,” kata Andi. (*)

Editor : Timoteus Marten
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Muatan Lokal, Upaya Melestarikan Bahasa Daerah di Papua