AMPTPI: Kapolda Papua Segera Identifikasi dan Hukum Berat Pelaku

share on:
Mama-mama pedagang asli Papua pikul peti jenasah Alm. Robert Jitmau memasuki pasar sementara Mama-mama Papua di Jayapura Kota, Jumat (21/52016) - IST
Mama-mama pedagang asli Papua pikul peti jenasah Alm. Robert Jitmau memasuki pasar sementara Mama-mama Papua di Jayapura Kota, Jumat (21/52016) – IST

Jayapura, Jubi – Tindakan kekerasan oleh oknum tertentu atau yang sering disebut dengan Orang Tak Dikenal (OTK) kepada orang asli Papua (OAP) maupun kepada non Papua terus bertambah, seperti tindakan penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, kriminal dan sejenisnya.

Padahal dari serangkaian kekerasan yang terjadi di Papua ini pihak berwajib, dalam hal ini Kepolisian Daerah (Polda) Papua bisa segera mengidentifikasi siapa oknum sebenarnya di balik rangkaian kekerasan yang berakhir dengan kematian.

Ketua Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua se Indonesia, Dewan Pimpinan Wilayah (AMPTPI-DPW) Indonesia Timur, Natan Naftali Tebai mengatakan, pihaknya sebagai mahasiswa dan pemuda meminta kepada Polda Papua segera mengidentifikasi, menemukan dan mempublikasikan nama pembunuh terhadap Alm. Robert Jitmau (38 tahun).

“Dengan tegas kami meminta kepada Kapolda Papua, bahwa pembunuh terhadap saudaraku Robert Jitmau agar segera diberikaan hukuman berat seumur hidup. Kami pun mengutuk kelompok atau oknum pembunuh Robert Jitmau,” beber Natan Naftali Tebai kepada Jubi di Jayapura, Minggu (22/05/2016).

Walaupun Rojit (sapaan akrab Robert Jitmau) telah tiada, dirinya meyakini semua Mama-Mama Pasar Papua dan Solpap agar tidak akan mundur dari perjuangan yang sedang dilakukan. “Pengawalan agenda pembangunan pasar Mama-Mama Papua harus berlanjut,” imbuhnya.

Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) melalui Komisi I yang membidangi Politik, Pemerintah, Hukum dan HAM, Laurenzus Kadepa meminta Polda Papua dan Pangdam XVIII/Cenderawasih selaku penanggung jawab keamanan di Provinsi Papua ini sejauh mana proses penyidikan.

Menurut Laurenzus Kadepa, kini nyawa manusia sudah tak ada lagi nilai di negeri ini. Sebab, hampir tiap hari mendapat berita duka. “Dari informasi yang saya dapat adalah semuanya yang mati yakni 99 persen OAP. Ada yang mati karena sakit, lakalantas, miras, dan lainnya,” tutur Laurenzus Kadepa.

“Hal itu terjadi di seluruh tanah Papua, juga di luar Papua di seluruh kota studi mahasiswa Papua berada,seperti Yogyakarta, Sulawesi Utara, Jakarta, Bogor, Bali dan lainnya,” ungkapnya.

Dikatakan politisi Partai NasDem ini, kini saatnya para pemangku kepentingan di Provinsi Papua seperti Gubernur Papua, DPRP dan MRP harus meminta penjelasan kepada Kapolda Papua dan Pangdam Papua, sebagai penanggung jawab keamanan di Provinsi Papua.

“Kami minta penjelasan kepada pak Kapolda dan pak Pangdam, ini mengapa terus terjadi begini? Siapa otaknya di balik sejumlah tindakan kekerasan ini? Tolong jelaskan,” tegasnya meminta.

Secara terpisah, Ketua Pedagang Mama-Mama Papua, Yuliana Pigai menegaskan, atas peristiwa kematian pimpinannya, yakni Alm. Robert Jitmau bahwa pihaknya tidak tinggal diam dalam upaya mencari tahu siapa sebenarnya yang dengan sengaja menabrak Rojit itu.

Mama-mama pedagang asli Papua sedang menjemput Alm. Robert Jitmau dengan bentangkan baliho turut berduka cita depan taman Imbi Jayapura Kota - IST
Mama-mama pedagang asli Papua sedang menjemput Alm. Robert Jitmau dengan bentangkan baliho turut berduka cita depan taman Imbi Jayapura Kota – IST

“Kami bersedih, sangat bersedih. Kami sudah kehilangan sosok laki-laki berani dan kuat yang selama ini dampingi dan membela kami mama-mama Papua. Biar begitu tapi kami tetap cari tahu siapakah pelaku itu,” ujar Mama Yuliana Pigai.

Dikatakan Pigai, pihaknya telah mengutuk dengan keras terhadap si pelaku agar hidupnya tidak selamat. “Kami sudah kutuk dengan adat kami. Yang membunuh juga akan secepatnya meninggal. Memangnya kami punya bapa Rojit ini salah apa sampai seenaknya mencabut dia punya nyawa,” tegasnya.

“Tuhan juga sudah kutuk dia (orang yang membunuh). Kami lihat ini sudah terencana sehingga bisa jadi begini (ditabrak mati tempat),” tukasnya.

Yosina Arubaya, salah satu pedagang dan pengurus Solpap menuturkan, seluruh pedagang merasa kehilangan seorang malaikat penolong.

“Kami khawatir proyek pembangunan pasar ini tak akan berjalan. Sebab, tak ada lagi Rojit yang secara sukarela terus membantu kami selama ini,” tutur Yosina.

Mahasiswi Papua di Semarang, Merri Magdalena Butu mengaku sangat menyesal atas meninggalnya Robert Jitmau yang selama ini gigih menyuarakan perekonomian Papua, lebih khususnya hak mama-mama Papua.

Mahasiswi Papua di Semarang turut berduka cita atas meninggalnya Robert Jitmau - IST
Mahasiswi Papua di Semarang turut berduka cita atas meninggalnya Robert Jitmau – IST

“Kami sangat menyesal, sebab ia (Rojit) bersuara demi mama-mama Papua untuk membicarakan hak-hak mama-mama Papua. Salah satunya adalah meminta pasar yang layak berjualan demi memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai anak bangsa agar anak-anaknya menjadi orang berguna bagi dirinya sendiri,keluarga,masyarakat ,bangsa dan negara West Papua,” tulis Merri via pesan singkatnya.

Diharapkan, bahwa meninggalnya Robert Jitmau ini kedepannya harus ada pemuda Papua yang tergerak hatinya untuk mengambil bagian menggantikan posisinya (Rojit) agar hak mama-mama Papua bisa diperhatikan oleh pemerintah .

“Dan juga kami kaum perempuan Papua tetap di garis terdepan untuk berbicara kekerasan yang terjadi di tanah Papua,” pungkasnya. (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  AMPTPI: Kapolda Papua Segera Identifikasi dan Hukum Berat Pelaku