Berdikari, Mahasiswi Ini Jualan Noken

share on:
Yoaice dan rekannya sedang menjual noken khas Papua di depan Saga Mall Abepura, Rabu (18/05/2016) - Jubi/Abeth You
Yoaice dan rekannya sedang menjual noken khas Papua di depan Saga Mall Abepura, Rabu (18/05/2016) – Jubi/Abeth You

Jayapura, Jubi – Biaya kuliah tak setiap saat harus dibebankan pada orang tua. Mahasiswa yang kreatif pasti memiliki keterampilan untuk memenuhi kebutuhan kuliahnya. Salah satunya adalah menganyam noken khas Papua dan menjualnya.

Yoaice (22), mahasiswi Universitas Ottow dan Geisler (UOG) Papua mengatakan, keterampilan menganyam atau merajut noken dari benang untuk dijual didapatnya sejak kecil dan terbawa sampai sekarang.

“Saya sudah mulai jualan noken ini sejak tahun 2013 waktu masih SMA di Kota Jayapura. Kalau untuk buat noken itu sudah aktivitas sehari-hari,” kata Yoaice kepada Jubi ketika ditemui di dapan Saga Mall Abepura, Rabu (18/05/2016).

Perempuan yang kini berada di semester IV ini mengatakan, jualan noken itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya sebagai seorang mahasiswa yang hidup mandiri di kota ini.

“Saya tidak selalu berharap kepada orangtua untuk meminta uang terus menerus, tapi saya harus kerja sendiri. Tak selalu orangtua yang membiayai hidup kita,” imbuhnya.

Dikatakannya, jika jualannya laku satu hari ia bisa dapatkan uang Rp. 300 ribu hingga Rp. 500 ribu. Lanjutnya, ia bukan hanya membuat noken saja tetapi juga membuat gelang, tempat HP dan kalung.

“Jadi itu semua guna menambah biaya hidup dan membiayai kuliah,” ucapnya.

Rekan lainnya, Yosephina (23) mengatakan,  awalnya mereka tidak mendapatkan tempat untuk berjualan, biasanya menitipkan hasil kerajinan tangannya kepada mama-mama Papua yang jualan noken, tetapi lama-kelamaan mereka mengambil inisiatif sendiri untuk berjualan.

Yosephina menambahkan, ia dan Yoaice juga memiliki langganan. Mereka suka pesan noken sesuai keinginan yang diminta konsumen.

“Banyak orang yang biasa pesan, jadi motif dan ukuran itu tergantung permintaan dari konsumen,” tambah Yosephina.

Baik Yosephina maupun Yoaice mengaku orang tua mereka tinggal di Dogiayai. Ibu dari Yosephina dan Yoaice sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. (*)

 

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Berdikari, Mahasiswi Ini Jualan Noken