Pemerintah Nauru Bantah Blokir Akses Facebook

share on:
Anggota Parlemen dari Oposisi Nauru, Mathew Batsiua. Foto: Supplied/RNZ
Anggota Parlemen dari Oposisi Nauru, Mathew Batsiua. Foto: Supplied/RNZ

Jakarta, Jubi – Pemerintah Nauru menyatakan belum memblokir akses ke Facebook di kepulauan itu dan klaim bertentangan itu bermotif politik.

Radio New Zealand melaporkan, dalam sebuah pernyataan pemerintah Nauru mengatakan ada kemungkinan beberapa situs media sosial telah diblokir karena mengeluarkan larangan situs pornografi, pekan lalu.

Namun, pihaknya menolak klaim bahwa pihaknya memblokir situs untuk alasan lainnya.
Sebelumnya, akhir pekan lalu, anggota parlemen oposisi mengatakan pemerintah telah memaksa satu-satunya penyedia internet di negara itu untuk menutup akses ke Facebook.

Pihak oposisi mengatakan, hal itu tidak mengherankan mengingat ketidakmampuan pemerintah untuk mengatasi segala bentuk kritik media.

Salah satu dari lima anggota parlemen oposisi yang telah ditangguhkan sejak Mei tahun lalu, Mathew Batsiua, mengatakan itu adalah tahap akhir dalam keinginan obsesif Menteri Kehakiman, David Adeang, untuk memerintah dengan kediktatoran dan ketakutan.

Mathew Batsiua mengatakan, kemarin klaim oleh Adeang bahwa ia hanya menghentikan akses ke situs pornografi, hanya alasan.

“Mereka meramalkan bahwa mereka peduli dengan kritik dari tindakan mereka dengan Nauruans di Facebook dan mereka meramalkan hal ini dengan pernyataan oleh Presiden [Baron Waqa] di Parlemen beberapa minggu lalu, dan sekarang mereka telah menindaklanjuti,” kata Mathew Batsiua, Jumat (1/5/2015).

“Sekarang mereka telah sensor warga dari akses ke Facebook.”

Batsiua mengatakan, larangan akses Facebook berarti masyarakat di Kepulauan Nauru sekarang tidak punya media independen, setelah sebelumnya direktif dari Adeang untuk media lokal tidak mewawancarai setiap anggota oposisi atau orang yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah. (Yuliana Lantipo)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Pemerintah Nauru Bantah Blokir Akses Facebook