Kandidat Doktor Asal Uganda Tawarkan Solusi Bagi Papua

share on:
Design Undangan terbuka acara Melawan Lupa 10/11 AMP Yogya (doc. AMP)
Design Undangan terbuka acara Melawan Lupa 10/11 AMP Yogya (doc. AMP)

Yogyakarta, Jubi – Idris seorang mahasiswa berkewarganegaraan Uganda yang sedang mengambil Doktor di Universitas Gadja Madah (UGM) bidang Pembangunan menyarankan empat solusi bagi persoalan Papua dalam diskusi “Melawan Lupa; mengenang 13 tahun kematian Dortheys H. Eluay” di Asrama Kamasan I, Yogyakarta

“Kita sudah tahu siapa itu Indonesia dan bagaimana strategi politiknya, jadi jangan kita ambil pusing dengan apa yang disettingnya untuk Papua tetapi bagaimana orang Papua juga setting apa yang bisa dibuat oleh orang Papua untuk masa depannya” ujarnya memulai pandangannya.

Idris yang telah menghabiskan hampir 20 tahun di Yogyakarta itu menyampaikan empat saran untuk mengentaskan persoalan di Papua, pertama, memupuk persaudaran untuk sebuah persatuan dan itu harus dimulai dari mahasiswa yang ada di luar Papua, hasilnya harus dibuktikan ketika kembali mengabdi di Papua dengan mengajak warga sekitar untuk bersatu. dengan begitu menurutnya, pasti pusat akan kerepotan.

Kedua, tunjukan prestasi akademik bukan mabuk dan buat onar. Lanjut Idris, bila setiap tahun beberapa perguruan tinggi di Indonesia (luar Papua) ada nama orang Papua terima cum laude maka pasti orang akan menghargai prestasi itu dan ini merubah citra Papua.

Ketiga, pemerintah daerah dan provinsi di Papua harus menyiapkan sumber daya manusia (SDM) daerah bukan hanya ke Jawa tetapi ke luar negeri melalui jalur negara-negara terdekat hingga doktor dan professor.

Kalau SDM sudah merasa mampu silahkan, suarakan Papua Merdeka karena kalau tidak, setelah merdeka akan memanfaatkan tenaga orang asing yang bayarannya lebih mahal dan kekayaan sumber daya alam Papua akan habis dikeruk untuk bayar orang pintar itu dan juga oleh negara-negara besar.

Keempat, jangan sampai persoalan geografis, bahasa, agama, adat istiadat yang beraneka ragam di Papua menjadi alat pemicu konflik oleh orang Papua, sendiri atau berhati-hatilah bila ada kelompok lain memanfaatkan perbedaan itu sebagai akar konflik dan namun yang lebih penting memperjuangkan persaudaraan dari perbedaan itu.

Fransiskus Kasipmabin, mahasiswa Papua yang mengeyam Ilmu di Universtas Sanata Dharma dalam diskusi itu juga menyampaikan, kini  sudah saatnya orang Papua membuka hati dan menyimak persoalan sosial, politik, pendidikan, kesehatan ini dengan baik.

Menurutnya, dinamika Papua hari ini mengajak orang Papua untuk harus menyatakan sikap bahwa persatuan adalah kewajiban kalau kita inginkan kedamaian dan hidup yang lebih lama lagi di bumi cenderawasih itu.

“Orang Papua mesti sadar bahwa kita dalam masalah sangat besar, kondisi sekarang kita belum bersatu, maka persatuan Sorong  sampai Merauke adalah suatu kewajiban lagi” ujar mahasiswa asal Pegunungan Bintang ini. (Mecky)

 

Editor : Syam Terrajana
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Kandidat Doktor Asal Uganda Tawarkan Solusi Bagi Papua