MASIA LAY: ADA DUA TUNTUTAN MASYARAKAT MERAUKE

share on:
Ilustrasi Jalan Rusak. (1.bp.blogspot.com)

Jayapura, 24/10 (Jubi) – Masyarakat Kabupaten Merauke, Papua yang sebagian besar hidup bertani masih mengeluhkan buruknya kondisi infrastruktur jalan yang dilalui untuk mengangkut hasil panen mereka ke kota.

 

Anggota DPR Papua dari Dapil Merauke, Masia Lay mengatakan, saat Kunjungan Kerja (Kunker) ke wilayah tersebut ia mendapat keluhan dari masyarakat yang ada di Kabupaten Merauke.

 

“Dari hasil Kunker saya ke Maruke lalu, ada dua keingunan atau tuntutan masyarakat di sana yaitu pembangunan infrastruktur ruas jalan provinsi yakni ruas jalan Kuprik-Okaba dan Kuprik-Jagebob serta pembangunan infrastruktur pertanian seperti pembangunan irigasi dan lainnya karena masyarakat di sana sebagain besar hidup bertani,” kata Masia Lay kepada tabloidjubi.com, Kamis (24/10).

 

Menurutnya, ruas jalan Kuprik-Okaba dan Kuprik-Jagebob merupakan urat nadi perekonomian masyarakat Kabupaten Merauke karena jalan itu menghubungkan pedalaman dengan kota.

 

“Kalau anggaran memang tidak cukup, pengerjaannya bisa dikerjaan sedikit- sedikit setiap tahun anggaran karena jalur itu sangat penting bagi masayakat untuk mengangkut hasil panen mereka.  Masyarakat di sana sebanarnya tidak terlalu banyak tuntutan, mereka hanya berharap pemerintah memperbaiki infrastruktur perhubungan. Serta pertanian karena daerah itu produsen padi,” ujarnya.

 

Dikatakan Masia Lay, bicara masalah infrastruktur memang ranah Komisi D, namun sebagai wakil masyarakat dari Dapil Merauke, dirinya juga punya tanggungjawab. “Saya wakil masyarakat dari Dapil sana dan saya bertanggungjawab mewakili menyampaikan apa yang mereka inginkan dan butuhkan. Jadi ada dua tuntutan masyarakat di sana yakni infrastruktur perhubungan dan pertanian, karena itu urat nadi perekonomian mereka guna meningkatkan taraf hidup mereka. Dan ini bisa meningkatkan PAD,” katanya.

 

Sebelumnya salah satu petani asal Distrik Kurik, Rasidin mengatakan, dampak dari rusaknya jalan tani itu mengakibatkan biaya angkut hasil panen padi petani mahal. Harga ongkos angkut gabah menggunakan sepeda motor berkisar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu sekali angkut.

 

“Sementara menggunakan mobil bisa mencapai Rp50 ribu hingga Rp100 ribu dengan jarak tempuh hingga 5 kilo meter. Hal ini berdampak pada biaya produksi yang tinggi, sementara harga jual lebih rendah dari petani yang berada distrik lain yang memiliki gudang beras sendiri. Misalnya antara Kurik, Tanah Miring dan Semangga ada kesenjangan harga. Di Tanah Miring dan Semangga kan ada Bulog. Jadi biayanya lebih kecil dibanding petani yang ada di Kurik,” ujar Rasidin. (Jubi/Arjuna)

 

Tags:
Editor : CUNDING LEVI
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  MASIA LAY: ADA DUA TUNTUTAN MASYARAKAT MERAUKE