Pak Gubernur, saya agak terperanjat manakala Menteri Perhubungan, Freddy Numberi melontarkan rencana pembangunan rel kereta api di Papua. Idenya bagus. Masyarakat diberikan pilihan terhadap moda transportasi yang ada. Namun agaknya, jalan pikiran Menteri Freddy bisa dibilang off side, terlalu maju, tidak paham kondisi Papua hari ini. Mengapa Pak Gubernur?
Sebagai Menteri Perhubungan, tentu ia memiliki banyak data dan masukan para ahli. Terutama tentang kelayakan (feasibility) dan visibilitas rencana itu. Pantang seorang pejabat negara mengumbar janji tanpa ada dasar pegangan.
Sayangnya, sampai hari ini, semoga saya salah, saya belum mengetahui atas dasar apa rencana itu dilontarkan Menteri Freddy saat meresmikan kapal di Biak tempo hari.
Alih-alih soal dasar program, saya orang awam ini, malah menangkap soal ketakutan eksistensialis Menteri Freddy, jika dianggap tidak memberikan kontribusi terhadap tanah kelahirannya, Papua.
Menteri Freddy pernah bilang: Jusuf Kalla semasa jadi wakil presiden mempersembahkan kemegahan Bandara Sultan Hasannudin yang berstatus internasional untuk Masyarakat Makassar.
Apakah karena hal itu, Menteri Freddy terpancing bahwa putra daerah mesti melakukan hal sama di tanah kelahirannya?
Di Jawa banyak rel kereta api sudah tak dipakai lagi. Kebanyakan warisan Belanda. Dibuat ketika industri gula menguasai ekonomi-politik di Hindia Belanda.
Jalur Jogjakarta-Magelang atau Jogjakarta-Bantul, dahulu “gemuk.” Akses kereta di utara dan selatan Jogja digunakan sebagai alat mobilisasi utama hasil-hasil pertanian dan perkebunan di kedua wilayah.
Seiring perkembangan teknologi, masyarakat mulai bisa menilai segi-segi efisiensi. Angkutan barang moda kereta api perlahan mulai ditinggalkan. Terutama, setelah mobil dan truk hadir, akses jalan raya mulai memadai.
Yang masih tersisa dari penggunaan ini cuma gerbong-gerbong minyak dari Pertamina, dan angkutan batubara untuk konsumsi PLTU.
Semakin terbukti, pada 1990-an, beberapa jalur yang saya sebutkan di atas, karena tidak ekonomis, kemudian mati.
Pada 2009, ada lontaran untuk revitalisasi jalur ini. Namun, sampai saat ini belum terwujud juga. Barangkali soal ongkos yang mesti disiapkan.
Sebagai perbandingan kasar, rel kereta membutuhkan dana Rp 15 miliar per kilometer. Bayangkan jika hal itu dilakukan di Papua. Belum lagi perlu dana pembebasan lahan, pembuatan ratusan jembatan, pembangunan stasiun,dan seterusnya, karena mesti dimulai dari nol.
Alasan revitalisasi rel di Jawa untuk pilihan moda transportasi masyarakat, terutama untuk barang, saya kira tidak terbukti. Masyarakat lebih memilih truk, bus, sepeda motor dan lain-lain, manakala jalan raya sudah semakin layak untuk mobilitas mereka. Truk sudah mempunyai kapasitas yang jauh lebih efisien. Alhasil, sampai kini rencana revitalisasi rel kereta hilang ditelan kegaduhan pembangunan yang lain.
Kaka Bas, mungkin pernah dengar, ide Menteri Freddy membangun rel kereta akan diterapkan untuk jalur Jayapura–Sarmi. Jika membandingkan infrastruktur di Jawa dan Sumatera, pemerintah tak perlu lagi memulai dari nol. Saya pikir, rencana Menteri Freddy suatu mega proyek yang sangat monumental.
Kalau tujuannya menekan biaya produksi, saya kira lebih baik sang Menteri cukup fokus pada pembangunan pelabuhan besar, jalan raya yang layak, dan bandara yang memadai.
Sasaran mobilisasi logistik malah bisa terpenuhi keduanya. Urgenitas dari proyek kereta api seperti jauh panggang dari api. Tak jelas, tak terukur, dan bias kepentingan. Dan lagi, sudahkah ada penelitian yang komprehensif mengenai jumlah calon pengguna kereta, atau minimal jumlah pengguna jalan raya Jayapura-Sarmi?
Coba Menteri Freddy hitung jumlah rata-rata penumpang taksi Jayapura-Sarmi, atau lebih jauh lagi jumlah seluruh pengguna darat yang lalu lalang sepanjang jalur Jayapura-Sarmi. Juga penumpang Kapal Perintis dari Sarmi ke Jayapura.
Belum lagi ancaman dampak lingkungan. Kaka Bas bisa bandingkan, kondisi hutan Kalimantan yang hancur oleh aktivitas penambangan, akibat dukungan infrastruktur pemerintah bagi pihak penambang. Jalan dan jembatan dibuatkan bagus untuk kepentingan mobilitas truk-truk mereka. Sedangkan masyarakat, yang katanya, menjadi sasaran tujuan pembangunan, hanya menikmati sekian persen. Soal kemajuan wilayah, kita bisa dengar masyarakat di pusat tambang malah menjerit tak punya listrik.
Tak sebanding Kaka Bas. Ada kecurigaan tentu. Mengesampingkan besaran rupiah dan dolar yang harus diinvestasikan pada proyek. Siapakah yang bakal meneguk untung? Tidakkah Kaka Bas curiga ada kepentingan di balik rencana itu? Jika betul Sarmi memiliki banyak potensi, di antaranya, batubara, minyak bumi, pasir besi, kayu, dan lain-lain, apa untuk itu Menteri Freddy mengajukan rencana?
SONY
Waena, Jayapura

| < Prev | Next > |
|---|
Pantai su meti, mari tong cari bia! See details
Ramai-ramai mengejar Persipura See details
Anak-anak dari Pegunungan Bintang See details
Menunggu keputusan dibalik pagar MRP See details
Ini sa pu ikan, ko punya mana? See details
Inilah kemenanganku! See details
Hi, Just Smile for Us! See details
Satu malam di Distrik Langda, Kabupaten Yahukimo See details

| Artikel..... | Asal Mula Nama Wamena |
| Artikel..... | Jacksen Mulai Pimpin Latihan Persipura |
| Artikel..... | KMSP2 Dukung Yusak Yaluwo |
| Artikel..... | Persemi Mimika Siap Jadi Tuan Rumah Divisi II |
| Artikel..... | MRP Warning Investor di Asmat |
| Artikel..... | Selamatkan Warisan Budaya Asmat |
| Artikel..... | Tingginya Buta Aksara di Papua : Hukum Karma Buat Guru |
| Artikel..... | PILKADA Se-Papua Barat : Hari Pemungutan Suara Kemungkinan Diubah |
| Artikel..... | Banyak Pengusaha Perempuan Papua Belum Gabung di IWAPI |
| Artikel..... | UU Pornografi Tak Bisa Diterapkan di Papua |
| Artikel..... | Perlukah Pemekaran Kodam (di) Papua? |
| Artikel..... | Ambil 10 Kategori Lomba, Tim Pesparawi Nabire Optimis Raih 5 Medali |
| Mawar Hitam Tanpa Akar 29/08/2009 | Administrator Sebuah Novel Dari Tanah Papua "Inilah [ ... ] |
| Other Articles |