Content View Hits : 2934266
We have 63 guests online

Surat Terbuka untuk “Kaka Bas”: Kereta Api untuk Siapa?

Pak Gubernur, saya agak terperanjat manakala Menteri Perhubungan, Freddy Numberi melontarkan rencana pembangunan rel kereta api di Papua. Idenya bagus. Masyarakat diberikan pilihan terhadap  moda transportasi yang ada. Namun agaknya, jalan pikiran Menteri Freddy bisa dibilang off side, terlalu maju, tidak paham kondisi Papua hari ini. Mengapa Pak Gubernur?  
Sebagai Menteri Perhubungan, tentu ia memiliki banyak data dan masukan para ahli. Terutama tentang kelayakan (feasibility) dan visibilitas rencana itu. Pantang seorang pejabat negara mengumbar janji tanpa ada dasar pegangan.
Sayangnya, sampai hari ini, semoga saya salah, saya belum mengetahui atas dasar apa rencana itu dilontarkan Menteri Freddy saat meresmikan kapal di Biak tempo hari.
Alih-alih soal dasar program, saya orang awam ini, malah menangkap soal ketakutan eksistensialis Menteri Freddy,  jika dianggap tidak memberikan kontribusi terhadap tanah kelahirannya, Papua.  
Menteri Freddy pernah bilang: Jusuf Kalla semasa jadi wakil presiden mempersembahkan kemegahan Bandara Sultan Hasannudin yang berstatus internasional untuk Masyarakat Makassar.
Apakah karena hal itu, Menteri Freddy terpancing bahwa putra daerah mesti melakukan hal sama di  tanah kelahirannya?
Di Jawa banyak rel kereta api sudah tak dipakai lagi. Kebanyakan warisan Belanda. Dibuat ketika industri gula menguasai ekonomi-politik di Hindia Belanda.
Jalur Jogjakarta-Magelang atau Jogjakarta-Bantul, dahulu “gemuk.” Akses kereta di utara dan selatan Jogja digunakan sebagai alat mobilisasi utama hasil-hasil pertanian dan perkebunan di kedua wilayah.  
Seiring perkembangan teknologi, masyarakat mulai bisa menilai segi-segi efisiensi. Angkutan barang moda kereta api perlahan mulai ditinggalkan. Terutama, setelah mobil dan truk hadir, akses jalan raya mulai memadai.
Yang masih tersisa dari penggunaan ini cuma gerbong-gerbong minyak dari Pertamina, dan angkutan batubara untuk konsumsi PLTU.
Semakin terbukti, pada 1990-an, beberapa jalur yang saya sebutkan di atas, karena tidak ekonomis, kemudian mati.
Pada 2009, ada lontaran untuk revitalisasi jalur  ini. Namun, sampai saat ini belum terwujud juga. Barangkali soal ongkos yang mesti disiapkan.
Sebagai perbandingan kasar, rel kereta membutuhkan dana Rp 15 miliar per kilometer. Bayangkan jika hal itu dilakukan di Papua. Belum lagi perlu dana pembebasan lahan, pembuatan ratusan jembatan, pembangunan stasiun,dan seterusnya, karena mesti dimulai dari nol.
Alasan revitalisasi rel di Jawa untuk pilihan moda transportasi masyarakat, terutama untuk barang, saya kira tidak terbukti. Masyarakat lebih memilih truk, bus, sepeda motor dan lain-lain, manakala jalan raya sudah semakin layak untuk mobilitas mereka. Truk sudah mempunyai kapasitas yang jauh lebih efisien. Alhasil, sampai kini rencana revitalisasi rel kereta hilang ditelan kegaduhan pembangunan yang lain.
Kaka Bas, mungkin pernah dengar, ide Menteri Freddy membangun rel kereta akan diterapkan untuk jalur Jayapura–Sarmi. Jika membandingkan infrastruktur di Jawa dan Sumatera, pemerintah tak perlu lagi memulai dari nol. Saya pikir, rencana Menteri Freddy suatu mega proyek yang sangat monumental.   
Kalau tujuannya  menekan biaya produksi, saya kira lebih baik sang Menteri cukup fokus pada  pembangunan pelabuhan besar, jalan raya yang layak, dan bandara yang memadai.  
Sasaran mobilisasi logistik malah bisa terpenuhi keduanya. Urgenitas dari proyek kereta api seperti jauh panggang dari api. Tak jelas, tak terukur, dan bias kepentingan. Dan lagi, sudahkah ada penelitian yang komprehensif mengenai jumlah calon pengguna kereta, atau minimal jumlah pengguna jalan raya Jayapura-Sarmi?
Coba Menteri Freddy hitung jumlah rata-rata penumpang taksi Jayapura-Sarmi, atau lebih jauh lagi jumlah seluruh pengguna darat yang lalu lalang sepanjang jalur Jayapura-Sarmi.  Juga penumpang Kapal Perintis dari Sarmi ke  Jayapura.  
Belum lagi ancaman dampak lingkungan. Kaka Bas bisa  bandingkan, kondisi hutan Kalimantan yang hancur oleh aktivitas penambangan, akibat dukungan infrastruktur pemerintah bagi pihak penambang. Jalan dan jembatan dibuatkan bagus untuk kepentingan mobilitas truk-truk mereka. Sedangkan masyarakat, yang katanya, menjadi sasaran tujuan pembangunan, hanya  menikmati sekian persen. Soal kemajuan wilayah, kita bisa dengar masyarakat di pusat tambang  malah menjerit tak punya listrik.  
Tak sebanding Kaka Bas. Ada kecurigaan tentu. Mengesampingkan besaran rupiah dan dolar yang harus diinvestasikan pada proyek. Siapakah yang bakal meneguk untung? Tidakkah Kaka Bas curiga ada kepentingan di balik rencana itu? Jika betul Sarmi memiliki banyak potensi, di antaranya, batubara, minyak bumi, pasir besi, kayu, dan lain-lain, apa untuk itu Menteri Freddy mengajukan rencana?

SONY
Waena, Jayapura


Comments (6)Add Comment
0
...
written by _JC_GUEST_NAME, March 02, 2010
100&#xSE;TUJU ! Harap surat ini dibaca sebagai constructive feedbacks...!!!
0
...
written by ramos, March 31, 2010
Mimpi di siang bolong .. paitua dong dua dulu Dubes di Italia dan Panama.. lihat kereta api jadi dong bayangkan demikian.. kereta api merukana sarana transportasi alternatif...Papua masih luas tidak butuh kereta api... saat ini alangkah baiknya pemerintah melalui kementrian perhubungan dan gubernur Papua menambah Kapal laut dan Pesawat terbang bagi masyarakat di Tanah Papua dalam rangka mempercepat pembangunan di segala bidang di Papua.. peningkatan SDM putra/i asli Papua agar kelak mereka akan melanjutkan pembangunan
0
...
written by dodot sunda, April 24, 2010
pertama2 yg hrs kitong sadari:
mari saudara kitong melihat proses pembangunan yang terjadi di kitong pu tana papua.
pembangunan yang tra berdasar atas kemauan masyarakat, tanpa ada satu titik dasar pijakan untuk pembangunan di daerah yang baik dan masih banyak lagi.
dari berbagai hal yg tra kitong suka coba mari kitong pikir baik untuk salah satu moda transportasi kereta api ini, kenapa?
salah satu dampak baik dari kereta api ini adalah pola pembangunan akan berjalan dari bawah keatas atau dari kampung2 ke kota2 dan MRP dapat lebih menggunakan kekuatannya untuk mendukung masyarakat asli papua dalam kontek bila moda transportasi kereta api ini benar terjadi.
dengan pembangunan dari kampung2 ke kota2 maka kesejahteraan masyarakat itu akan dapat diukur sehingga dpt di ketahui manfaat dari moda transportasi ini.
ok saudara ini hanya garis besarnya saja saya menyampaikan pendapat lebih jelas lagi kita tunggu saja.
0
...
written by Anna Yikwa, May 05, 2010
Foi kk Bas, saya masih ingat janji kampanye sebelum jadi gub, yaitu akan dibangun jalan tol 6000 km di Papua. Tra usah pikir rel kereta api di Papua, boro-boro...rel kereta api...jalan tol 6000 km...jalan raya dari Jayapura-Wamena-Merauke-Sorong, ini saja belum jadi sampe skrg. Jgn pikir jauh2...jalan2 di Jayapura, Abe, Sentani dan sampe ke Depapre saja kayak msh jln di hutan2 baru, mo pikir brg yg tra mungkin itu. Stop obral2 sdh...
0
...
written by raid, May 06, 2010
Sebagai anak bangsa kelahiran papua, saya sangat prihatin dengar rencana akan adanya kereta api dipapua.sebenarnya yg paling diperlukan oleh anak papua adalah " Perbaikan dibidang pendidikan, dan kesehatan yang sangat dibutuhkan. tidak perlu melihat negara orang atau kota yg lain. kalau pendidikan sdh mantap serta didukung tingkat kesehatan, nanti anak-anak kita yg bikin rel kereta yg menghubungkan semua kota dipapua. tidak perlu kk bas dgn kk freddy yg buat.yg perlu kk dorang urus pendidikan dan kesehatan warga sj. trus bgmn papua mau maju klo sedikit2 perang suku, saling memojokkan,miras menguasai otak, agama diperdebatkan,KDRT smakin tinggi. apa yg bisa kita banggakan?????
0
zfdfsd5
written by wow power leveling, May 13, 2010

you can get wow gold and wow power leveling wow power leveling wow gold and wow power leveling

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items:

Images of Papua

Terbitan Papua Room

Mawar Hitam Tanpa Akar
29/08/2009 | Administrator
article thumbnail

  Sebuah Novel Dari Tanah Papua "Inilah [ ... ]


Other Articles