

Jayapura, (15/5) --- Setiap tahun Amnesty International (AI) Aotearoa, yang berbasis di New Zealand
Jayapura (14/05) --- Euforia pemilihan gubernur mulai bangkit di Papua. Hal ini ditandai dengan pend
Jayapura (26/04)---Inilah kronologis persidangan dari terkdakwa makar Forkorus Yaboisembut, Edison G
JUBI---Orang asli Papua bebas merdeka menjadi otopi bersama pemerintah Indonesia. Otopi bebas menjad
JUBI---Tiga hari yang lalu (20/03), oknum dari massa aksi Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang se

JUBI- Oknum PSK di jalan Ayam Kecil Agats, sebut saja namanya Mawar, mengaku walau dia sudah menjalani penyuluhan penyakit tentang HIV/AIDS, akan tapi untuk mendapatkan kondom sangat susah di Agats. “Apalagi kalau saya di pedalaman Asmat.Susah dapat kondom. Bukan harganya mahal tapi tidak ada kondom,” ungkap Mawar.
“Ironinya di antara mereka yang terinfeksi adalah,tujuh7 Pekerja Seks Komersial(PSK), dua ibu rumah tangga dan enam orang masyarakat umu,’ujar Sekertaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPAD) Kabupaten Asmat, Dwi Ariana, SP di ruang kerjanya, belum lama ini di Agats.
Lebih lanjut urai dia orang dengan HIV/AIDS (ODHA) ditemukan sebanyak tujuh orang pekerja seks komersial ( PSK).
Hal ini diketahui setelah mereka melakukan tes VCT. Sedangkan ODHA dari kalangan masyarakat umum dan ibu rumah tangga diketahui secara tidak sengaja pada saat berobat ke rumah sakit Agats, yang secara diam-diam darahnya diperiksa.
Pendataan penderita HIV/AIDS atau ODHA di Agats masih minim, karena kesadaran masyarakat masih kurang untuk datang memeriksakan diri mereka secara sukarela terutama bagi mereka yang diduga perlakunya menyimpang suka gonta ganti pasangan seksual.
Menurut Sekretaris KPA Kabupaten Asmat selama ini wilayah operasi para PSK termasuk PSK ODHA sementara ini tidak menetap di Agats.” Mereka beroperasi berpindah pindah,”ujar dia.
Ditambahkan wilayah operasi mereka tersebar hingga di luar wilayah Selatan Papua.Wilayah operasi pelaksanaan pekerjaan seks komersial meliputi Distrik Atsj,Pantai Kasuari, dan terkadang memasuki wilayah Kabupaten Merauke atau masuk ke Kabupaten Mimika.
“Jadi mereka biasanya pulangpergi.Kondisi demikian telah menyulitkan pihak kesehatan memproteksi penderita HIV/AIDS di Asmat,’ujar Sekretaris KPA Kabupaten Asmat.
Menurut dia mereka tidak mengetahui secara jelas dari mana mereka mengidap virus yang mematikan itu, karena mereka ini beroperasi secara terselubung datang dan pergi. “Sehingga untuk memproteksi mereka sangat sulit,” tutur Dwi.
Susah juga untuk menilai rentan HIV/AIDS secara pasti. Tapi yang jelas perkembangan penyakit mematikan sangat bahaya karena telah merebak ke masyarakat lapisan terbawah.
Pemerintah daerah melalui KPAD Asmat, hampir semenjak tiga tahun silam, secara rutin tiap tahun terus mengadakan upaya pencegahan HIV/AIDS melalui penyuluhan kepada para PSK, organisasi perempuan dan intansi pemerintah daerah.
Bahkan sebatas himbauan lisan, pemda pernah menutup lokalisasi di Agats, Atsj dan beberapa wilayah di Asmat. namun para PSK menyelinap masuk ke rumah-rumah milik warga. Tidak ada aturan hukum di daerah, seperti penetapan Peraturan daerah atau pengaturan sIstem proteksi lainnya.
“Sekarang kami tidak bisa menjamin penyebaran para PSK.Kalau kita mau usir mereka juga salah. Yang jelas tidak ada jaminan, penyakit HIV/AIDS akan berkembang subur di Asmat,” papar Dwi.
Selain HIV/AIDS, penyakit Infeksi Menular Seksual(IMS) juga dikategorikan cukup tinggi di Asmat.
Di sisi lain penggunaan kondom juga merupakan pilihan alternatif ke tiga. Pertama harus setiap terhadap pasangan suami istri. Kedua jangan suka gonta ganti pasangan hubungan seksual. Ketiga kalau sudah tra tahan lagi harus memakai kaos kaki alias kondom.
Walau demikian banyak penelitian yang menyimpulkan banyak juga para pelanggan di lokalisasi yang enggan menggunakan kondom. Alasan mereka kurang enak dan hanya rasa karet. Karena harus mengikuti kemauan klien atau pelanggan terpaksa para pekerja seks harus melalyani mereka tanpa menggunakan kondom.Padahal para pekerja seks memiliki hak untuk menolak jika kliennya tidak mau menggunakan kondom.
Kondom sebenarnya merupakan salah langkah untuk meminimalkan penularan HIV/AIDS.”Perbuatan seks di luar nikah haram jadi sebaiknya memakai kondom daripada haram,”ujar Ketua KPA Provinsi Papua Constan Karma. Lebih lanjut dikatakan Karma sebenarnya penanggulangan HIV/AIDS di Papua bukan tanggungjawab KPAD saja tetapi semua pihak mulai dari keluarga hingga ke masyarakat banyak.Karma juga mengakui belum memantau sampai ke daerah pelosok terpencil. Kalau bisa menjangkau ke pelosok sudah pasti jumlah penderita HIV/AIDS pasti lebih banyak lagi.Dia juga berpesan agar masyarakat terus menjaga diri dengan baik mulai dari keluarga di rumah tangga.Karma juga mengingatkan pemakaian kondom bukan berarti menganjurkan untuk melakukan seks bebas tetapi dengan penggunaan kondom bisa mengurangi resiko penularan HIV/AIDS.Lebih lanjut dijelaskan penggunaan kondom hanya untuk mengurangi penyebaran penyakit yang sampai sekarang ini belum ditemukan obatnya.
Penggunaan kondom sebagai salah satu jalan mencegah HIV/AIDS di Papua bisa menjadi pilihan karena hampir sebagian besar penyebaran HIV/AIDS di Papua terjadi karena melalui hubungan seksual dan bukan karena narkobat termasuk jarum suntik yang tidak steril. KPAD Papua mengungkapkan 94 persen penyebaran HIV/AIDS terjadi karena perilaku hubungan seks yang menyimpang.Misalnya suka gonta ganti pasangan hubungan seksual.Menurut Karma kaum pria menjadi pemicu utama dalam penyebaran penyakit yang belum ada obatnya ini.Berbeda dengan daerah lain di luar Papua penyebaran HIV/AIDS lebih banyak terjadi karena narkoba.Lebih lanjut jelas Karma kalau terlalu sering gonta ganti pasangan hubungan seks resiko penularannya semakin besar.Hasil survey menunjukan penyebaran HIV/AIDS di Papua semakin meningkat karena kaum prianya sering “jajan” di luar rumah. Sumber malapetaka penyebaran HIV/AIDS harus diberantas. Salah satunya dengan melakukan kampanye setia terhadap pasangannya terutama bagi suami dan istri. Selain itu menurut Albert Yogi warga Nabire kampanye HIV/AIDS juga harus dilakukan sampai ke sekolah sekolah agar anak anak juga mengetahuinya dan menyampaikan kepada orang tua mereka di rumah. Terlebih kalau pengetahuan tentang HIV/AIDS bisa masuk ke dalam salah satu mata pelajaran di sekolah. Bisa menjadi alat kampanye atau transfer pengetahuan yang paling ampuh guna menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Tanah Papua.Apalagi kalau bisa diajarkan mulai dari tingkat SD sampai dengan SLTA di seluruh tanah Papua.Diharapkan dengan sosialisasi tentang HIV/AIDS ini sampai tingkat pelajar mereka akan lebih memahami dan mampu menjaga diri. Namun demikian peran orang tua sangat efektif dalam membimbing anak anaknya tentang bahaya penyebaran HIV/AIDS dengan berbekal norma agama. (JUBI/Tim)