Content View Hits : 2934221
We have 57 guests online

Problematik Kepadatan Lalu Lintas di Jayapura

Oleh Alfasis R. Ap*)

Perkembangan Kota Jayapura yang pesat tak terkendali menyebabkan prasarana rintisan Pemerintah Belanda tidak mampu lagi mengimbangi karakteristik wilayah, perkembangan dan pertumbuhan penduduk kota. Apalagi, pusat-pusat ekonomi, kantor, pendidikan yang bermunculan, berjalan semau pengembang tanpa rujukan rencana induk kota. Semua berpecaran mengiringi ruang gerak penduduk.
Misalnya,yang menopang mobilitas dan aktivitas penduduk mulai menimbulkan masalah lalu lintas. Kian hari pemilikan kendaraan bermotor bertambah, sementara jumlah dan lebar jalan cenderung tidak mendukung lagi. Hal ini diperburuk oleh daya beli, gaya dan minat memiliki kendaraan bermotor. Jadilah, kepadatan dan kemacetan lalu lintas melanda berbagai kawasan di Kota Jayapura.          
Daya tampung kawasan kota sesungguhnya mulai jenuh. Gejala-gejalanya sudah tampak dari pengrusakan lingkungan di areal-areal perbukitan dan penggusuran (penimbunan) kawasan resapan (aliran) air. Penggusuran punggung-punggung bukit sebagai kawasan perumahan mewah dan jalan-jalan pengganti, jelas tidak menguntungkan dari bentuk topografi kota.
Hutan-hutan perbukitan, terutama Siklop (Cycloops), merupakan penyuplai air dan pencegah erosi (longsor). Peluang banjir dan longsor dadakan sewaktu-waktu dapat terjadi (beberapa kali sudah memakan korban). Derah-daerah rendah yang banyak dimukimi justru yang menjadi sasaran.
Kepadatan dan kemacetan di ruas-ruas jalan tertentu di kota Jayapura memang belum separah di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Namun, serbuan gencar penduduk luar ke Jayapura dan pertambahan pemilikan kendaraan bermotor akan menyetarakan posisi Jayapura.  
Kepadatan dan kemacaten terutama terjadi di sejumlah ruas jalan protokol, seperti Jalan Ahmad Yani, Jalan Percetakan dan Jalan Irian. Kepadatan aktivitas di jalan berlangsung saat-saat tertentu sejak pagi hingga sore hari.  Di ruas Jalan Percetakan, kepadatan bermula sejak pukul 06.00-12.00, Jalan Pembangunan-Pasar Ampera pukul 12.00-18.00, kawasan pelabuhan pukul 18.00-22.00 (berkenaan merapatnya “kapal putih”).
Sebagai lokasi pusat berbagai aktivitas bisnis hingga pemerintahan, Jalan Ahmad memang selalu padat lalu lintas. Mulai dari kantor-kantor pemerintah, rumah sakit pemerintah dan swasta, pusat perbelanjaan, apotik, bank, hotel, salon hingga rumah makan. Puncak kemacetan terjadi pada malam minggu hal serupa berlangsung di Jalan Percetakan.Kedua jalan protokol memang ditetapkan sebagai daerah wajib bagi lalu lintas semua jenis kendaraan yang bertujuan Apo dan Dok.
Kawasan Kotaraja-Abepura (meliputi Kampkey dan Padangbulan) yang sepuluh tahun sebelumnya tidak ramai lalu lintas, kini makin padat. Bahkan kini sudah biasa kendaraan mengantre pada pagi, siang dan menjelang malam. Kemacetan disebabkan pergerakan kendaraan karyawan pemerintah, swasta, pedagang, kendaraan umum, pelajar yang melintas bersamaan pada waktu-waktu tertentu.
Saga Mall, pusat perbelanjaan terbesar Jayapura yang terletak di Abepura, belakangan menjadi sumber kemacetan kendaraan yang melintas di depannya. Karena di kawasan ini ini juga terdapat pelataran parkir, kantor-kantor bank pemerintah dan swasta, ATM, rumah makan.
Pasar Yotefa, Kotaraja yang mulai difungsikan sejak Juli 2004 juga menjadi tujuan aktivitas kendaraan yang lalu lalang di ruas jalan Abepura-Abepura Pantai. Arus kendaraan di sini cukup membuat padat lalu lintas. Apalagi, di sekitar pasar sudah dibangun permukiman permanen.
Mayoritas pedagang di pasar ini merupakan migran luar Papua yang bermodal kuat dan mau bertaruh di sektor dagang. Tentu saja, mereka juga banyak memiliki kendaraan bermotor yang masuk-keluar pasar. Belum lagi kendaraan angkut dan ojek yang memenuhi pasar.
Kepadatan lalu lintas di kawasan Waena lebih banyak dijumpai di ruas jalan di depan Asrama Batalyon TNI-Zipur dan Toko Topaz. Kampus Universitas Cenderawasih (Uncen), Waena, kian menambah padat lalu lintas di kawasan Jalan Kamp Wolker. Warga di tiga Perumnas (I-III) juga menggunakan jalan ini. Sejumlah kantor lembaga swadaya masyarakat pun berkedudukan di sini. Kemacetan terjadi di lampu lalu lintas di pertigaan Jalan Kamp Wolker.
Di kawasan perbelanjaan Topaz juga berdiri Bank Mandiri Kas Uncen, pindahan dari kampus lama Uncen di Abepura beberapa waktu sebelumnya. Di bank ini, gaji Karyawan Uncen dibayar. Kehadiran bank ini juga akan mengundang warga sekitar untuk menarik tabungan di sini, daripada harus ke Abepura. Sudah pasti, banyak kendaraan dan antrean nasabah di sepajang Topaz tidak bisa dihindari.
Kawasan-kawasan yang ruas jalannya seringkali dipadati kendaraan bermotor pada tahun terakhir merupakan kawasan pelajar dan mahasiswa, permukiman penduduk, pengembangan kota,sarana pemerintah, pendidikan, usaha, olahraga, embarkasi (di pelabuhan).
Kepadatan, kemacetan dan kecelakaan lalu lintas di kawasan-kawasan tersebut di atas terbilang cukup tinggi. Sementara penataan yang “paten”belum ditemukan.
Ruas-ruas jalan yang disebutkan di atas akan terus menimbulkan kepadatan dan kemacetan dari bulan ke tahun.

*) Staf pada Pusat Studi Kependudukan, Universitas Cenderawasih, Jayapura

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Images of Papua

Terbitan Papua Room

Mawar Hitam Tanpa Akar
29/08/2009 | Administrator
article thumbnail

  Sebuah Novel Dari Tanah Papua "Inilah [ ... ]


Other Articles