Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Perempuan dan Anak
  3. Gerakan 500 Payung untuk Mama Papua: karena pemerintah kurang perhatikan
  • Sabtu, 19 Agustus 2017 — 12:44
  • 1804x views

Gerakan 500 Payung untuk Mama Papua: karena pemerintah kurang perhatikan

Mereka menyebutnya gerakan 500 Payung untuk Mama-mama Papua. Mereka mendistribusikan payung besar untuk Mama-mama Papua yang berjualan di pinggir jalan di seluruh Tanah Papua.
Roberta Muyapa (memegang payung) yang baru dibeli dan dicetak untuk siap didistribusi ke Papua, 24 Juli 2017 - facebook grup 500 payung untuk Mama Papua
Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Nabire, Jubi – Mereka menyebutnya gerakan 500 Payung untuk Mama-mama Papua. Mereka mendistribusikan payung besar untuk Mama-mama Papua yang berjualan di pinggir jalan di seluruh Tanah Papua.

“Inisiatif ini muncul sekitar tanggal 19 Mei 2017 lalu, dimulai dengan membuat grup facebook massanger  yang mengajak semua orang, khususnya kawan-kawan untuk membantu secara sukarela Mama-mama yang berjualan di bawah panas terik matahari dan hujan,” kata Roberta Muyapa, inisiator gerakan ini, kepada Jubi melalui surat elektronik, Jumat (18/8/2017).

Perempuan muda asal Nabire yang sedang menempuh studi di Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS), Yogyakarta ini merasa tergerak untuk melakukan sesuatu untuk Mama-mama Papua khususnya yang berjualan di pinggir jalan.

Inisiatif mahasiswa Papua

Roberta melihat perhatian pemerintah daerah masih sangat kurang terhadap Mama-mama ini, sehingga mereka dari dulu sampai sekarang masih terus berjualan di bawah terik matahari dan hujan, ditambah lagi kurangnya tempat atau pasar yang layak buat mereka.

“Saya dan teman-teman melihat kurangnya perhatian pemerintah daerah pada Mama-mama, pengolahan ekonomi Mama-mama pasar Papua juga kurang, sehingg tempat yang layak atau pasar jadi tidak ada sehingga Mama-mama dari dulu berjualan hasil bumi tanpa fasilitas,” kata Roberta yang juga melihat bahwa dikalangan Mama-mama sendiri sangat kurang pengorganisasian sehingga situasi seperti jalan di tempat.

Tak saja meluncurkan gerakan dan kampanye belaka, Roberta dan kawan-kawannya hingga saat ini sudah berhasil mengumpulkan 500 payung dari hasil donasi berbagai pihak sejak gerakan ini diluncurkan. Pada awalnya dia juga tidak menyangka respon publik lewat media facebook ternyata sangat positif.

Gagasan meluncurkan gerakan semacam ini memang muncul dari Roberta sendiri, namun kebanyakan yang membantu pekerjaan ini adalah kawan-kawan mahasiswa.

“Banyak yang merespons positif dan banyak juga yang mau membantu sekaligus menjadi koordinator kota-kota di Pulau Jawa, Sulawesi, dan Papua. Kebanyakan memang mahasiswa. Mereka merespon sangat baik dan mendukung baik materi maupun moral,”ungkapnya dengan antusias.

Kota-kota utama sasaran gerakan ini adalah kota-kota studi mahasiswa Papua, yakni Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, Manado, Goronto, Jayapura, Nabire, Manokwari, Serui, Sorong, dan Timika. Di masing-masing kota itu gerakan ini punya narahubungnya yang muncul spontan dari hasil aktivitas di group facebook yang kini beranggotakan 5.759 akun.

Roberta merasa tergerak untuk melakukan kampanye dan penggalangan dana ini karena dirinya sebagai perempuan yang juga akan menjadi mama. Ditambah lagi banyak orang Papua yang dibesarkan oleh mama yang berjualan agar keluarga bisa hidup dan anak bisa sekolah.

“Saya bagian orang Papua dan perempuan yang akan menjadi mama dan dibesarkan oleh seorang mama yang juga berjualan untuk kami keluarga bisa makan dan sekolah. Itu yang menjadi alasan utama saya,” ujarnya.

Dia juga melihat situasi aktivitas ekonomi Mama-mama Papua yang semakin hari semakin terpinggirkan oleh para pendatang.

Rp 35 juta terkumpul dalam 2,5 bulan

Untuk bisa mengadakan 500 payung yang cukup besar, Roberta dan kawan-kawan membutuhkan dana sekitar Rp 38 juta hingga Rp 40 juta.

“Dana yang dibutuhkan itu sekitar Rp 38 juta hingga Rp 40 juta. Proses penggalangan dananya ada yang kami  lakukan dengan berjualan serta sosialisasi ke asrama-asrama Papua di Jawa, Sulawesi, dan Papua,” kata Roberta yang mengaku sampai susah tidur karena dalam fikiran pun harus kerja menggali ide-ide kreatif penggalangan dana lainnya.

Dari proses tersebut, dia mengatakan tidak banyak kejutan dari sumber-sumber donasi yang datang, misalnya mendapat sumbangan yang besar dari para pejabat negara.

“Untuk kejutan seperti itu sampai saat ini tidak ada, (dan) tak perlu dibanggakan juga mereka yang lagi duduk di birokrasi, omong-kosong semua,” katanya sambil tertawa dan mengaku proses penggalangan dana berlangsung biasa saja.

Melalui poster-poster kreatif yang disebar di media sosial, Roberta dkk berusaha mandiri untuk bisa mengumpulkan dana. Ajakan di dalam poster juga sangat simpatik:

Ko yang punya lebih,

Ko yang peduli tong pu Mama Papua

Mari ko kasih sedikit untuk Mama

Mama yang biasa jualan di pinggir jalan

Mama yang panas terik mencari nafkah

Sehingga dalam waktu 2,5 bulan mereka sudah berhasil mengumpulkan sekitar Rp 30 juta dan uang tersebut sudah dipakai habis untuk membeli 500 payung. Bahkan sebagian payung sudah didistribusi ke kota-kota di Papua.

“Untuk payung kami sudah membeli 500 payung. Satu payung harganya Rp 56 ribu. Sablon satu payung seharga Rp 4 ribu. Jadi Total keseluruhan Rp 30 juta ditambah ongkos kirim kargo sebesar Rp 5,5 juta. Semuanya habis Rp 35,5 juta,” ujar perempuan muda berusia 23 tahun ini.

Dia menambahkan dari total Rp 35,5 juta tersebut, masih membutuhkan Rp 2-3 juta untuk ongkos kirim ke Kabupaten-kabupaten lain.

“Payung sejauh ini sudah dikirimkan dan diterima di Sorong, Manokwari, Timika, dan Nabire. Semoga ada dana tambahan untuk tutupi kekurangan di atas, sehingga kami bisa kirimkan ke Jayapura, Serui, Waropen, Timika, Intan Jaya pantai, Deiyai dan Dogiai,” katanya lagi.

Melalui gerakan ini Roberta berharap tidak hanya selesai setelah distribusi payung.

“Harapannya semoga kami bisa tetap ada untuk Mama-mama, dan gerakan menjadi lebih jelas sehingga bisa bekerja sama dengan elemen lain yang bergerak di kemanusiaan,” kata mahasiswi jurusan pertambangan semester 10 yang mengaku sulit menyelesaikan kuliahnya karena mata pelajaran yang memang susah. 

Gerakan 500 Payung untuk Mama ini bagi dia hanyalah pendorong untuk tujuan yang lebih besar,

“Pada prinsipnya kami ingin menargetkan agar seluruh Tanah Papua harus ada Pasar Khusus Mama-mama Papua,” tegasnya. (*)

 

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Pemerintah Pusat siap bantu membiayai sepuluh GOR venue PON 2020

Selanjutnya

Kapolres Jayawijaya: JNE dua kali loloskan sabu-sabu

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe