Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Penkes
  3. Siswa baru hanya 11 orang, Kepsek SMA Satria kecewa
  • Kamis, 17 Agustus 2017 — 14:38
  • 652x views

Siswa baru hanya 11 orang, Kepsek SMA Satria kecewa

Sistem penerimaan siswa baru dengan menggunakan aplikasi online dirasakan kurang menguntungkan bagi sekolah-sekolah yang dikelola yayasan atau sekolah swasta. Hal tersebut dirasakan Sekolah Menengan Atas (SMA) Satria, Polimak, Jayapura.
Siswa SMA Satria saat mengikuti proses belajar mengajar - Jubi/Roy Ratumakin
Roy Ratumakin
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Jayapura, Jubi - Sistem penerimaan siswa baru dengan menggunakan aplikasi online dirasakan kurang menguntungkan bagi sekolah-sekolah yang dikelola yayasan atau sekolah swasta. Hal tersebut dirasakan Sekolah Menengan Atas (SMA) Satria, Polimak, Jayapura.

Menurut Kepala SMA Satria, Effendi Ibrahim, kepada Jubi, Kamis (17/8/2017,) melalui sambungan telepon selularnya mengatakan pihaknya sangat dirugikan dengan cara penerimaan siswa baru melalui online atau pendaftaran menggunakan perangkat komputer.

"Pendaftaran secara online itu kan ditentukan dari nilai rapor dan wilayah tempat tinggal siswa dengan sekolah terdekat yang dituju. Ini malah terbalik, banyak sekali siswa yang bukan berada di wilayah tersebut mendaftar di sekolah negeri yang cukup jauh dari tempat tinggalnya," katanya.

Imbasnya, sekolah yayasan atau swasta tidak mendapatkan siswa. Ibrahim mencontohkan, di sekolah yang dipimpinnya, pihaknya hanya mendapatkan 11 siswa pada tahun ajaran baru.

"Sangat di sayangkan sistem penerimaan seperti itu. Banyak orang tua menganggap sekolah swasta atau yayasan mahal. Nyatanya, kami paling murah dari sekolah lain di Kota Jayapura," ujarnya.

Selain itu pihaknya juga sudah menerapkan sistem pendidikan seperti yang dilakukan sekolah-sekolah lain, terutama sistem di sekolah negeri.

"Kami sudah melakukan pengadaan komputer untuk mendukung proses belajar mengajar bagi para siswa," katanya.

Disinggung apakah dirinya sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Jayapura, Ibrahim mengatakan sejak awal pihaknya sudah melakukan koordinasi namun tidak ada tanggapan sama sekali dari dinas.

"Malah saya lihat, ada sekolah negeri yang menerima siswa melebihi batas daya tampung. Ini kan sudah melanggar aturan. Baru sekolah seperti kami ini kalau tidak ada muridnya bisa apa?," ujarnya dengan nada kesal.

Sebelumnya, Rudolf Albert Viktor Karma, wali murid dari Brayan Abraham Valerios Karma, yang merasa dipingpong Dinas Pendidikan Kota Jayapura dan SMPN 5 Jayapura terkait penyelesian pencabutan pendaftaran secara sepihak, melaporkan Kadis Pendidikan Kota Jayapura ke pihak berwajib.

"Saya sudah bersabar ketika diberitahu kalau anak Bryan ini tak bisa sekolah akibat namanya dicabut secara sepihak oleh oknum operator dari Disdik Kota Jayapura dan sudah ada pertemuan dan rekomendasi dari Kadisdik tapi tidak selesai. Dengan begini saya kecewa dengan pelayanan Dinas Pendidikan," katanya kepada Jubi, belum lama ini.

Dihubungi terpisah, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, I Wayan Mudiyasa, mengatakan masalah ini berawal dari ketidakpuasan dari orang tua. Pencabutan berkas pendaftaran tersebut merupakan keinginan dari siswa itu sendiri.

"Staff saya mana berani mencabut tanpa nomor yang ada dari siswa. Ini kan masalah ketidakpuasan orang tua murid. Buktinya ada tapi orang tua tidak percaya," ujarnya melalui telepon selularnya. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Filep Karma terpaksa berobat ke Jakarta karena RSUD Dok II kekurangan listrik

Selanjutnya

Sekolah di Sentani ramaikan HUT RI dengan berbagai lomba

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe