Festival Film Papua
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Mengenang kudeta Fiji
  • Kamis, 18 Mei 2017 — 07:26
  • 805x views

Mengenang kudeta Fiji

Fiji adalah negara yang sering dilanda kudeta. Dalam waktu 20 tahun, Fiji telah mengalami empat kali kudeta politik. Kudeta terakhir terjadi 11 tahun lalu di bawah kepemimpinan Frank Bainimarama.
Pemblokiran jalan selama kudeta militer tahun 2006. /RNZI
RNZI
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Lina Nursanty

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Suva, Jubi – Fiji adalah negara yang sering dilanda kudeta. Dalam waktu 20 tahun, Fiji telah mengalami empat kali kudeta politik. Kudeta terakhir terjadi 11 tahun lalu di bawah kepemimpinan Frank Bainimarama. Para pemimpin kudeta di Fiji seperti Sitiveni Rabuka maupun Bainimarama seolah kebal hukum meski telah memimpin kudeta di negaranya.

Adapun George Speight, pemimpin kudeta politik pada tahun 2000 dijatuhi hukuman mati namun ia mendapat ampunan menjadi hukuman seumur hidup.

Memori rakyat Fiji terhadap masing-masing kudeta itu masih terus hidup. Yang terbaru, yaitu kudeta militer oleh Frank Bainimarama 10 tahun silam. Hingga kini, Bainimarama masih menjabat sebagai perdana menteri di negeri itu. Beberapa memori itu berhasil direkam oleh seorang jurnalis RNZI, Sally Round.

Pada 5 Desember 2006, Ben Daveta adalah seorang anak laki-laki yang hidup di Nadi. Saat itu, ia mendengar siaran langsung dari ibukota Fiji, Suva, yang mengumumkan bahwa militer telah mengambil alih kekuasaan.

Sebagai seorang anak kecil, Ben mampu merasakan ketakutan neneknya. Ia lalu mendekat ke arah neneknya itu sementara siaran radio masih mengudarakan pesan dari pemimpin kudeta militer, Frank Bainimarama. “Sejak pukul 6 sore ini… militer telah mengambil alih pemerintahan dan seluruh kuasa eksekutif di negeri ini.. saya perintahkan kepada seluruh rakyat untuk tetap tenang dan menjaga perdamaian.”

Suara sang komodor terdengar sangat berani. Kata-katanya meluncur dengan nada pelan tapi pasti ketika ia menyampaikan pengumuman itu kepada media termasuk jurnalis dari media asing. Sempat ada waktu rehat sejenak ketika kata “kudeta” mengudara selama beberapa hari. Hal ini tentu bukan hal yang aneh di Fiji. “Ketika nenek mulai menangis, saya mulai merasakan ketakutannya,” ujar Ben Daveta.

Pengumuman Frank Bainimarama itu membawa lagi memori berdarah dan horor yang dialami rakyat pada saat kudeta tahun 2000, meski saat itu ia masih sangat kecil. “Nenek saya mengenggam tangan saya dan mulai berdoa. Ia khawatir, ia tengah berdoa untuk Fiji, untuk pemimpin dan ia berdoa untuk keselamatan rakyat,” tuturnya.

Ketika kudeta terjadi, Komisioner Pelayanan Publik, Stuart Huggett langsung menemui pemerintah untuk mencari jalan keluar. Mereka memutuskan bahwa kudeta itu adalah ilegal. “Saya pergi menemui Komandan Bainimarama untuk memberitahunya tentang hal ini. Saat itu, Bainimarama tampak terganggu ketika disebutkan bahwa kudetanya ilegal,” ujar Stuart ketika dihubungi di Auckland.

Kontan ia langsung kena damprat. Ia diserang oleh pasukan militer hingga membuat kakinya patah. “Saya masih tidak mengerti dengan situasi saat itu,” tuturya.

Hari-hari berikutnya, tentara tampak di setiap persimpangan jalan untuk memeriksa orang-orang yang lewat. “Anak-anak kecil takut pergi ke kota karena banyak sekali tentara militer lengkap dengan senjata di jalanan,” ujar Daveta.

Jika anak-anak tengah bermain rugby dan di saat bersamaan ada mobil tentara yang lewat, maka anak-anak itu akan berteriak untuk menghentikan permainan.

Kudeta itu diikuti oleh pertarungan politis antara Bainimarama dengan perdana menteri menjabat, Laisenia Qarase yang melibatkan Australia dan Selandia Baru.

Waktu berlalu dan Fiji masih dipimpin oleh Bainimarama. Pengalaman kudeta militer itu membuat bocah Ben Daveta yang kini sudah beranjak dewasa makin tertarik pada dunia politik, demokrasi dan hak-hak orang asli. Menurut Ben, Fiji masih jauh dari demokrasi.

Ia lalu bergabung dengan salah satu partai oposisi Fiji untuk membantu korban pelanggaran hak asasi manusia. “Saya merasa ada yang salah. Dan satu hal yang paling bersalah yaitu kudeta 5 Desember 2006. Sejak itu, saya percaya bahwa saya harus menjadi anak muda yang berani menyatakan sikap untuk mengakhiri tradisi kudeta di Fiji,” tuturnya.

Sementara, Stuart Huggett meninggalkan Fiji sesaat setelah terjadi kudeta. Oleh pemerintah Bainimarama, ia dilarang kembali ke tanah airnya selama beberapa tahun. “Pemimin kudetanya dan pengikutnya masih berkuasa. Jika kudeta itu ilegal, apapun yang mereka lakukan tentu ilegal,” ujarnya.

Huggett mengaku tidak pesimistis akan masa depan Fiji. Menurut dia, rakyat Fiji selalu bisa mempertahankan diri dan hidupnya meski di bawah kekuasaan kudeta seperti yang pernah terjadi di masa lalu beberapa kali.

Minta maaf

Trauma kudeta tidak hanya menyerang rakyat kecil, melainkan juga pelaku kudeta itu sendiri. Sitiveni Rabuka kembali meminta maaf kepada rakyat Fiji atas tindakannya melakukan kudeta militer dua kali. Permohonan maaf itu diutarakan Rabuka setelah 30 tahun peristiwa politik itu berlalu.

Rabuka yang kini memimpin partai oposisi, partai Sodelpa, mengatakan bahwa ia berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar memperoleh ampunan atas tindakannya melukai rakyat ketika peristiwa kudeta terjadi.

Kudeta militer yang ia pimpin saat itu diwarnai kerusuhan dan penistaan terhadap ketutunan Indo-Fiji sangat membuat ia merasa dihantui rasa bersalah. Rabuka menyadari bahwa kudeta bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan segala tipe masalah nasional dalam sebuah masyarakat yang beradab. **

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Qantas terbang lagi ke Vanuatu

Selanjutnya

Penjualan alkohol harus dikendalikan selama pemilu

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe