Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Bomberai
  3. Kerusakan terumbu karang Raja Ampat harus libatkan masyarakat adat
  • Senin, 20 Maret 2017 — 09:21
  • 1970x views

Kerusakan terumbu karang Raja Ampat harus libatkan masyarakat adat

“Kami hanya sebagai penonton saja. Padahal kami yang merasakan langsung dampak dari kerusakan tersebut,” kata Ketua DAS Maya, Krist Thebu.
Ketua DAS Maya, Kristian Thebu bersama tokoh adat dari Kampung Yenbuba, Habel Saiyai dan Kepala Bamuskam Kampung Yenbuba, Mihael Mambrasar, serta penasihat DAS Maya, Hengky Gaman saat jumpa pers di Sorong, Jumat (17/3/2017) – Jubi/Florence Niken  
Florence Niken
gendis2005.soebroto@gmail.com
Editor : Timoteus Marten

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Sorong, Jubi – Dewan Adat Suku (DAS) Maya meminta kepada Pemerintah pusat dan daerah agar melibatkan masyarakat adat dalam menyelesaikan masalah kerusakan terumbu karang di perairan Kri, Distrik Mios Mansar, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

Hal ini merupakan reaksi keras DAS Maya atas rusaknya terumbu karang oleh kapal pesiar MV Caledonian Sky di kawasan Kri, 13 Maret 2017.

Ketua DAS Maya, Kristian Thebu bersama tokoh adat dari Kampung Yenbuba, Habel Saiyai dan Kepala Bamuskam Kampung Yenbuba, Mihael Mambrasar, serta penasihat DAS Maya, Hengky Gaman saat jumpa pers di Sorong, Jumat (17/3/2017) mengatakan, pihaknya merasa kesal dan kecewa, sebab pemerintah tak melibatkan mereka sebagai pemilik ulayat dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

“Kami hanya sebagai penonton saja. Padahal kami yang merasakan langsung dampak dari kerusakan tersebut,” kata Ketua DAS Maya, Krist Thebu.

Ia mengatakan, sejak dulu nenek moyang pemilik ulayat melakukan sasi (larangan adat) terhadap kekayaan alam dan biota laut.

Ia menilai, secara tak langsung kapal pesiar yang karam di kawasan itu membunuh masa depan masyarakat adat dan anak cucunya.

Pihaknya pun mengharapkan oknum perusak ribuan terumbu karang ini dihukum sesuai hukum yang berlaku. Mereka harus memberikan ganti rugi atas kerusakan yang terjadi.

“Pemerintah harus bicara baik baik dengan masyarakat adat. Masyarakat harus dilibatkan dalam penanganan masalah ini, bicara harus sampai ke kampung,” kata tokoh adat Kampung Yenbuba, Habel Sauyai.

Pemerintah dikabarkan telah menurunkan tim kajian untuk mengetahui sejauh mana kerusakan yang ditimbulkan Caledonian Sky dan upaya menuntut ganti rugi kepada pihak kapal.

Kepala Syahbandar dan Otoritas Sorong, Johny Rumbu Silalahi dalam wawancara dengan salah satu stasiun tv swasta di tanah air mengatakan SOP saat pelepasan kapal telah dilaksanakan dan dilepas.

“Kapal dilepas setelah ada statement dari nahkoda kapal bahwa dirinya akan bertanggung jawab,” katanya.
Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat, Marten Luther Bartholomeus kepada Jubi, 
Minggu (19/3/2017) mengatakan, tim kajian, baik dari pusat, maupun dari pemerintah daerah sedang melakukan kajian sosial ekonomi di lokasi kejadian.

“Kami akan melibatkan masyarakat dari kampung yang ada di Kri, diantaranya kampung Yenbuba,” kata Marthen.
 Ia menambahkan untuk kajian sosial ekonomi memang akan dilaksanakan pemerintah daerah dan menurut rencana hari ini (Minggu) akan dilaksanakan pertemuan di Waisai.

Tim kajian dari pemerintah daerah terdiri atas Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pariwisata, Dinas Kehutanan dan BLUD.

Undang-Undang RI nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup secara tegas menyebutkan, perusakan kekayaan alam seperti terumbu karang, lahan gambut dan hutan merupakan tindakan kriminal yang ancaman hukumannya adalah pidana penjara.

Meski perusahaan asuransi bersedia membayar kerusakan lingkungannya, hal tersebut tidak dapat menghilangkan aspek pidananya.

Sekretaris LSM Barapen, Rahman Kabes meminta Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat serius menyelidiki kasus itu.

“Jangan-jangan ada permainan masuk dan keluarnya kapal pesiar itu dari wilayah Indonesia hingga ke Filipina,” katanya.

Kerusakan terumbu karang disebutkan mencapai 13.533 meter persegi terhadap 8 genus karang, dan diperkirakan pihak manajemen MV Caledonian Sky wajib membayarkan kerugian dan usaha mengembalikan terumbu karang dengan perkiraan hitung nilai maksimal 16,2 juta dollar AS atau sebesar Rp 217 miliar. (*)

loading...

Sebelumnya

Jadi ketua sinode GKI Tanah Papua, ini kata Pendeta Mofu

Selanjutnya

Operasi simpatik, Kapolres Sorong bagikan bunga dan stiker

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe