Konferensi Luar Biasa
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Berita Papua
  3. Deportasi jurnalis Perancis, AJI Jayapura : Kebijakan Presiden belum diimplementasikan baik
  • Sabtu, 18 Maret 2017 — 19:40
  • 1633x views

Deportasi jurnalis Perancis, AJI Jayapura : Kebijakan Presiden belum diimplementasikan baik

“Presiden Jokowi dengan optimis mengucapkan kebijakan tersebut dalam kunjungannya ke Papua. AJI Jayapura melihat masih ada keterisolasian informasi bagi publik internasional tentang kondisi Papua yang sebenarnya,” ujar Fabio, Sabtu (18/3/2017).
Ilustrasi - IST
Hengky Yeimo
yeimohengky@gmail.com
Editor : Kyoshi Rasiey

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi - Dua warga negara Perancis, Jean Frank Pierre Escudie dan Basille Marie Longhamp dari The Explorer Network dideportasi pihak imigrasi Timika pada Jumat (17/3/2017).

Keduanya dideportasi dengan pesawat dari Bandar Udara Moses Kilangin Timika ke Perancis via Jakarta pada pukul 14.33 WIT karena diduga melakukan pelanggaran aturan imigrasi Indonesia.

Aliansi Jurnalis Independen Kota Jayapura menyayangkan tindakan imigrasi ini. Dikatakan oleh Fabio Lopez, kordinator Advokasi AJI Jayapura, belum ada implementasi secara baik, luas dan terbuka atas kebijakan Presiden Joko Widodo yang membuka akses peliputan bagi jurnalis asing di tanah Papua sejak 10 Mei 2015 lalu.

“Presiden Jokowi dengan optimis mengucapkan kebijakan tersebut dalam kunjungannya ke Papua. AJI Jayapura melihat masih ada keterisolasian informasi bagi publik internasional tentang kondisi Papua yang sebenarnya,” ujar Fabio, Sabtu (18/3/2017).

Akibatnya, lanjut Fabio, informasi tentang pembangunan infrastruktur, peningkatan ekonomi kemasyarakatan, perlindungan hak asasi manusia dan sejumlah isu lainnya bagi publik internasional sangst minim terekspos.

AJI Jayapura, lanjutnya, mendorong agar pemerintah membuka transparansi informasi terkait isu-isu di Papua bagi seluruh insan pers baik lokal, nasional, dan internasional.

“Tujuannya agar hasil liputan terkait segala problematika di Papua bisa menjadi koreksi dan acuan bagi pemerintah sebagai pengambil kebijakan,” ungkap Fabio.

Dari keterangan pihak imigrasi setempat, kedua warga negara Perancis yang berprofesi sebagai jurnalis tersebut dinilai belum mengurus izin pembuatan film dokumenter walaupun telah berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan disponsori maskapai milik pemerintah Garuda Indonesia. Pihak imigrasi pun menyatakan Jean dan Basille hanya menggunakan visa kunjungan.

Keduanya berencana melakukan investigasi jurnalistik di Papua, diantaranya, Asmat, Wamena, dan Raja Ampat dan Sorong di Papua Barat.

"Kegiatan dua wartawan ini pada dasarnya baik. Namun, kurang koordinasi dengan instansi terkait. Sebagai akibatnya, mereka dilarang memasuki Indonesia selama enam bulan ke depan,“ kata Kepala Tembagapura Kantor Imigrasi Samuel Enock di Timika, Papua, Jumat (17/3/2017).

Lanjut Samuel, mereka mulai pekerjaan mereka sebelum memperoleh dokumen yang diperlukan, yang masih diproses.

Jean dan Basille dibawa ke tahanan ketika mereka hendak mengambil gambar dari daerah Cartenz menggunakan helikopter sewaan dari Happi Hidup Aviation, sebelum diterbangkan ke Jakarta.

Pada tahun 2014, dua jurnalis Perancis lainnya, Thomas Dandois and Valentine Bourrat juga dideportasi dari Indonesia atas pelanggaran yang sama. Keduanya bahkan menjalani sidang dan sempat menjalani hukuman beberapa bulan di tahanan imigrasi Jayapura. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Gubernur akan bertemu Persipura bahas krisis keuangan

Selanjutnya

Kapolda tegaskan tidak ada masalah antara dirinya dengan Gubernur

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe