Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Tantangan perempuan Melanesia di Pasifik
  • Rabu, 08 Maret 2017 — 07:15
  • 5510x views

Tantangan perempuan Melanesia di Pasifik

Menurut Sharon Bhagwan-Rolls, direktur femLINK Pacific, akar penyebab berbagai bentuk kekerasan semacam ini terkait erat dengan kehidupan ekonomi yang sulit, kurangnya keseimbangan gender dalam masyarakat, hambatan dalam hal akses ke kebutuhan pokok dan isu-isu lain.
Perempuan di Provinsi Malaita Kepulauan Solomon memanen Taro - RNZI Courtesy of SPC
Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor :

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Nabire, Jubi – Karya Nia Val Ngaro terpilih untuk ikut dipamerkan di Kantor Pusat UNSECO pada Hari Perempuan Internasional 2017 di Paris, Perancis.

Ngaro adalah salah seorang dari dua orang seniman yang terpilih dari kawasan Asia Pasifik untuk terlibat dalam pameran itu.

Karyanya diambil dari seri patung kaca terbaru miliknya, kali ini patung-patung kaca “taro”, tanaman khas di kawasan Pasifik yang sangat identik dengan kerja-kerja perempuan.

Perempuan Pasifik dan karya seni

“Karya terbaru saya dan kecintaan saya pada kaca didorong oleh sebuah visi yang saya masih sangat ingat 13 tahun lalu: seorang perempuan dengan penuh semangat bekerja di perkebunan taro, menanam, menyemai, memanen dan akhirnya melihat buah hasil dari kerjanya sendiri.” kata Nia Val Ngaro dilansir RNZI Senin (6/3/2017).

Komisi Nasional Kepulauan Cook untuk UNESCO merasa sangat bangga atas karya perempuan Kepulauan Cook yang telah diakui sampai sejauh ini,” ujar Gail Towsend, sekretaris jenderal komisi itu.

Sekretaris kementerian Urusan Dalam negeri, Bredina Drollet juga berbesar hati atas buah karya tersebut: “Melihat karya perempuan Kepulauan Cook dirayakan di panggung internasional menambah kekuatan pada pesan kita menyangkut kesempatan untuk dan kontribusi dari kaum perempuan terhadap masyarakat kita.”

Sebagai ketua Komisi Nasional untuk UNESCO, Henry Puna menambahkan bahwa karya Nia Val itu mewakili semangat Kepulauan Cook dan membuktikan “tidak ada batas terhadap apa yang bisa kita lakukan, dan khususnya kepada perempuan-perempuan kita.”

Kekerasan perempuan

Di Fiji, menurut data Pusat Krisis Perempuan Fiji, di tahun 2013 sebanyak 3193 perempuan yang disurvey, 15 persen diantaranya yang sedang mengandung pernah mengalami pemukulan selama kehamilan, dan dua pertiga dari mereka dipukul bahkan ditendang langsung di perutnya oleh suaminya atau pasangannya sendiri.

Menurut survey tersebut, dilansir Fiji Times (24/2), angka kekerasan perempuan dan remaja di negeri itu adalah salah satu yang tertinggi di dunia.

Menurut Sharon Bhagwan-Rolls, direktur femLINK Pacific, akar penyebab berbagai bentuk kekerasan semacam ini terkait erat dengan kehidupan ekonomi yang sulit, kurangnya keseimbangan gender dalam masyarakat, hambatan dalam hal akses ke kebutuhan pokok dan isu-isu lain.

 “Kita tidak bisa mengurangi kekerasan terhadap perempuan tanpa menangani akar penyebab dari masalah ini,” ujarnya.

Persoalan ini ditambah dengan ketidakmampuan perempuan mengakses sistem peradilan yang efektif dan efisien, bencana alam, dan infrastruktur.

Di Kepulauan Marshall, kekerasan domestik yang diajukan ke pengadilan semakin meningkat dua tahun belakangan ini. Hal itu seiring kaum perempuan memanfaat proses yang ramah korban dan jalur pengaduan khusus untuk memasukkan kasus dan meminta “perintah perlindungan sementara” menghadapi pasangan yang melakukan pelecehan dan kekerasan.

Dilansir Marianas Variety (27/1) angka pelaporan meningkat 12 di tahun 2016 dan 10 kasus di tahun 2015. Sebanyak 51 persen perempuan yang diwawancarai oleh organisasi nasional perempuan Kepulauan Marshall, Perempuan Bersatu Bersama, mengalami kekerasan domestik.

Sementara di Kerajaan Tonga, dilansir RNZI (6/2) hingga saat ini belum meratifikasi Konvensi Penghapusan Diskriminasi dan Kekerasan terhadap Perempuan (CEDAW).

Dikutip RNZI, saat ini di dunia, selain Tonga, hanya lima negara anggota PBB yang belum meratifikasi CEDAW, yaitu Iran, Sudan, Somalia dan Amerika Serikat.

Representasi politik perempuan

Dalam 50 tahun, hanya empat perempuan yang berhasil menjadi anggota parlemen di Kepulauan Cook, demikian menurut Juru Bicara parlemen negara itu, Niki Rattle. “Padahal partisipasi mereka tidak dibatasi,” lanjutnya dalam sebuah workshop anggota parlemen Pasifik terkait kesehatan reproduksi perampuan di Selandia Baru, pada September 2016, seperti dilaporkan RNZI Februari lalu.

Menurut laporan tersebut, tingkat partisipasi perempuan di Parlemen negara-negara Pasifik adalah yang terendah di dunia. Perempuan disebutkan kurang dari 16 persen dari seluruh anggota parlemen di kawasan itu, menurut Inter-Parliamentary Union (IPU).

Banyak yang masih melihatnya sebagai pekerjaan laki-laki. “Itu jadi bidangnya laki-laki sudah bertahun-tahun, tetapi saya rasa minat perempuan semakin tinggi belakangan ini,” kata Niki.

Menurut wakil perdana menteri perempuan pertama kali di Samoa, Fiame Mata'afa, partisipasi perempuan sangat erat kaitannya dengan level pembangunan dan reformasi sosial. “Saya rasa ini berlaku untuk kawasan ini, keadaan pembangunannya mungkin merefleksikan semua elemen ini,” ujar Fiame.

Dia mengakui reformasi pasca konflik turut mempengaruhi faktor partisipasi, namun Pasifik secara umum seharusnya sudah melampaui level pergolakan politik itu.

“Saya rasa pengalaman beberapa negeri dalam kolonialisme jauh lebih sulit dibanding Pasifik, dan kawasan kita ini lebih kurang mengalami evolusi yang cukup ‘ramah’ menjadi wilayah berpemerintahan sendiri dibanding Afrika, misalnya,” kata Fiame lagi.

Memang, lanjutnya, kekerasan domestik masih menjadi masalah luar biasa besar di Pasifik, namun itulah bagian dari perjuangan kesetaraan gender, yakni melawan persepsi perempuan sebagai warga negara kelas dua.(*)

Sebelumnya

Strategi anti korupsi dihadapan Parlemen Solomon

Selanjutnya

Menteri Luar Negeri Australia ke PNG untuk Forum Kementerian

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe