Festival Film Papua
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
  1. Home
  2. Lingkungan
  3. DPMF Uncen fasilitasi temu mahasiswa selamatkan tanah dan manusia Papua
  • Senin, 20 Februari 2017 — 06:22
  • 3390x views

DPMF Uncen fasilitasi temu mahasiswa selamatkan tanah dan manusia Papua

“Yang penting kita kerja keras untuk masa depan manusia dan Tanah ini, banyak duduk berkumpul, cerita, tidak perlu di tempat yang hebat-hebat, yang penting aksi dan refleksi” ujarnya.
Para mahasiswa foto bersama setelah diskusi fokus Dinamika Pergerakan Mahasiswa untuk Selamatkan Tanah dan Mahasiswa Papua, Sabtu (18/2) di Autodirium Uncen- JUubi/AE
David Sobolim
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi - Dalam rangka memperkuat kebersamaan dalam perjuangan hak atas tanah dan manusia di Papua, Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (DPMF) Ilmu Sosial dan Politik menggelar diskusi fokus di Auditorium Universitas Cenderawasih dengan melibatkan berbagai elemen mahasiswa dan pemuda di Kota Jayapura.

Diskusi yang diselenggarakan Sabtu (18/2/2017) itu mengambil tema “Dinamika Pergerakan Mahasiswa untuk Selamatkan Tanah dan Manusia Papua”dan dibuka oleh Pembantu Rektor III Uncen bagian kemahasiswaan, Fredrik Sokoy.

Dalam sambutannya Fredrik Sokoy mengatakan forum-forum diskusi yang difasilitasi universitas menyangkut masalah-masalah rakyat Papua harus diperbanyak. Sehingga mahasiswa tidak hanya turun ke jalan, namun diberikan ruang untuk mencari jalan keluar atas berbagai hal yang terjadi di Papua.

Hadir sebagai pemantik diskusi tersebut adalah Bapak Frans Reumi, Dosen Hukum Uncen dan Ahli Hukum Adat serta mantan aktivis mahasiswa era 90an, Sayid Fadhal Alhamid. Sekitar 90 orang peserta dari perwakilan lembaga intra kampus, Organisasi Kemasyarakatan Pemuda, organisasi gerakan mahasiswa dan organisasi ikatan/paguyuban turut meramaikan diskusi itu.

Dalam pemaparannya, Frans Reumi menggarisbawahi dua hal penting untuk memahami agenda penyelamatan tanah dan manusia Papua. Yang pertama, menurutnya, adalah fungsi sosial tanah yang saat ini sedang dipaksa berubah ke dalam fungsi ekonomi.

“Tanah memiliki makna simbolik dan religius di masing-masing suku yang beragam di Papua, dan saat ini makna tersebut menghadapi tantangan perubahan fungsinya menjadi fungsi-fungsi ekonomi,” ujar Reumi dalam kesempatan itu.

Hal penting kedua adalah kemajemukan suku-suku di masing-masing wilayah adat Papua seharusnya menjadi kekuatan untuk mempertahankan fungsi sosial tanah, namun sejauh ini belum ada konsolidasi dan penyatuan berbasis solidaritas.

“Masing-masing teritori adat masih bergerak sendiri-sendiri, belum ada konsolidasi. Tantangannya adalah bagaimana mengelola kesamaan dan perbedaan konsep dalam melihat tanah menjadi kekuatan sosial bersama dalam berhadapan dengan arus perubahan,” kata dia.

Reumi juga menyoroti tiga jenis manusia Papua yang menurut dia harus dipandang sebagai satu kekuatan untuk menyelamatkan tanah dan manusia Papua ke depan. Pertama adalah Papua Color atau Papua peranakan, kedua Papua White dan ketiga Papua Black/Brown.

Peran mahasiswa

Mantan aktivis Sayid Fadhal Al Hamid di dalam pemaparannya menekankan pentingnya konsolidasi kembali dikalangan mahasiswa untuk mengisi ruang kosong dalam isu penyelamatan tanah dan manusia Papua dari kapitalisasi tanpa membeda-bedakan asal usul dan warna kulit.

“Yang penting kita kerja keras untuk masa depan manusia dan Tanah ini, banyak duduk berkumpul, cerita, tidak perlu di tempat yang hebat-hebat, yang penting aksi dan refleksi” ujarnya.

Di penghujung kegiatan tersebut, kepada wartawan dia menyarankan agar mahasiswa memperbanyak forum-forum kajian bersama.

“Gerakan mahasiswa itu dibangun melalui kajian-kajian dan forum diskusi yang mempersatukan ide-ide untuk membangun sesuatu yang strategis, membangun rasa solidaritas,” kata dia kepada wartawan Sabtu (18/2) di sela-sela acara tersebut.

Lebih lanjut Fadhal mengatakan mahasiswa  adalah elemen yang kuat untuk melakukan perubahan sosial dan setidaknya mahasiswa tidak memiliki agenda politik praktis. Dia berharap melalui diskusi ini akan membangun rasa solidaritas  untuk dapat keluar dari jebakan sistem tersebut, katanya. 

Sementara itu ketua panitia, Lucky Siep mengatakan melalui diskusi terebut mereka ingin menguatkan kepentingan perjuangan menyelamatkan Tanah Papua di kalangan mahasiswa.

“Melalui diskusi begini akan mencari jalan keluar terhadap sistem dipaksakan negara ini terhadap tanah dan manusia Papua,” ujarnya.

Kegiatan yang dilanjutkan dengan diskusi kelompok itu membahas langkah-langkah kerja bersama antar mahasiswa. Para mahasiswa dan pemuda pergerakan yang hadir semuanya bersepakat ruang-ruang duduk untuk tukar pikiran dibutuhkan dikalangan mahasiswa terlepas organisasi dan warna kulit.

Tim kerja dibentuk untuk merumuskan kegiatan rutin lanjutan antar semua organisasi mahasiswa yang hadir tersebut.(*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Pemkot Jayapura bersihkan kawasan Kali Acai

Selanjutnya

Siapa yang bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan hidup di tambang PT Freeport?

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua