PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
  1. Home
  2. Otonomi
  3. Orang Kamoro komitmen pulihkan diri dalam noken Papua
  • Jumat, 16 Desember 2016 — 22:31
  • 3372x views

Orang Kamoro komitmen pulihkan diri dalam noken Papua

“Masalah kependudukan yang masuk terus menambah beban hidup. Dan bahan baku nokenpun menuju kepunahan di tanah Papua melalui pengaruh arus transmigrasi ini, maka kami minta kepada pemerintah harus dihentikan,” ungkap Fransiskus Kaway melalui selular kepada Jubi, pekan lalu.
Titus Pekey bersama mama Kamoro dalam Hut Noken Papua ke IV – Jubi/IST
Abeth You
abethamoyeyou@gmail.com
Editor : Dominggus Mampioper

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Orang Kamoro di pesisir Kabupaten Mimika tak lepas dari budaya sagu dan meramu di sepanjang sungai. Noken sebagai alat untuk mengisi dan menampung hasil tangkapan dan juga menyimpan sagu.

Menebang pohon, memprosesnya menjadi sagu atau pangkur sagu adalah tugas kaum perempuan suku Kamoro, di Kabupaten Mimika Provinsi Papua. Hampir sebagian besar kehidupan mereka meramu artinya mencari makan dari alam. Pasalnya alam selalu menyediakan makanan bagi mereka.

Sagu merupakan bahan makanan utama suku Kamoro Papua, sagu pangan lokal andalan di Papua khususnya orang Kamoro. Sagu dan noken selalu menjadi bagian dari kehidupan kaum perempuan Kamoro.

Ketua panitia Hut Noken Kabupaten Mimika, Fransiskus Kaway mengatakan, bersama tua-tua adat setempat pihaknya menyatukan hati untuk memulihkan diri sebagai orang yang berasal dari noken.

Ulang tahun noken ke empat tahun 2016,  pihaknya bersama orang Kamoro siap memulihkan diri sebagai suku Mimika. Fransiskus mengatakan, pihaknya berupaya akan memulihkan alam semesta tanah Papua untuk membudidayakan bahan baku noken, Bahkan dia juga meminta kepada negara Indoensaia mesti bertanggungjawab ketika hutan bahan baku warisan budaya dunia dibabat atas nama izin pemerintah.

“Masalah kependudukan yang masuk terus menambah beban hidup. Dan bahan baku nokenpun menuju kepunahan di tanah Papua melalui pengaruh arus transmigrasi ini, maka kami minta kepada pemerintah harus dihentikan,” ungkap Fransiskus Kaway melalui selular kepada Jubi, pekan lalu.
 
Penggagas noken Papua, Titus Pekey mengataka, penggunaan museum noken tidak maksimal selayaknya dan segera selesaikan karena museum tersebut adalah warisan dunia di tanah Papua. Sehingga ia meminta kepada pemerintah pusat dan daerah segera memperjelas keadaan prasasti noken Unesco  dari Kemendikbud ke pemerintah daerah (Pemda) di tujuh wilayah adat tanah Papua.

“Konservasi noken menurut peta Dewan Adat Papua (DAP) tanpa menciptakan masalah-masalah dengan lembaga adat bentukan pemerintah. Karena, ada hak adat atas kepemilikan hak-hak adat lainnya yang sebenarnya dilindunginya,” kata Titus Pekey.

Sosialisasi noken, menurut dia, dalam pembangunan karakter bangsa justru masih menilai tidak ada manfaat ketika Unesco hargai benda tanah Papua yang kini sudah empat tahun berjalan ini.
Ia juga menyinggung soal pembangunan sanggar dan galeri noken di tujuh wilayah adat Papua, sebab selama ini masih belum diakomodir secara baik di seluruh Papua oleh Pemprov Papua dan kabupaten/kota.

“Segala atribut budaya khas Papua mesti posisikan sebagai warisan luhur OAP tanpa menilai menjadi masalah bersama noken warisan dunia dalam unsur ke budaya universal,” ujar Pekey.

Lebih lanjut dikatakan, noken dinilai biasa menjadi suatu mata pelajara di tiga jenjang pendidikan, yakni SD, SMP dan SMA/MK bermata pelajaran Muatan Lokal (Mulok). Namun, kata dia, masih belum kembangkan di seluruh Papua.(*)

Sebelumnya

Kadis Kominfo ingatkan stafnya tak cepat puas dengan prestasi

Selanjutnya

Sebagian besar kabupaten berhasil kelola dana Otsus

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua