Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Polhukam
  3. Dinilai hina bangsa Papua, DAP minta Kapolri periksa Vennetie R Dannes
  • Rabu, 20 Juni 2018 — 13:58
  • 3328x views

Dinilai hina bangsa Papua, DAP minta Kapolri periksa Vennetie R Dannes

Kata ibu Vennetie ini kur dalam bahasa pegunungan artinya seks bebas setelah perang. Tidak ada budaya masyarakat gunung seperti yang ibu ini maksudkan
Orang asli Papua (OAP) dengan atribut adatnya dalam sebuah acara budaya di Jayapura – Jubi/Abeth You
Abeth You
Editor : Syam Terrajana

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Dewan Adat Papua (DAP) menilai pernyataan Vennetie R. Dannes selaku Deputi Bidang Perlindungan Perempuan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) yang dimuat di sindonews.com berjudul “Tradisi Seks Bebas usai Menang Perang di Papua Melanggar UU“ telah menghina orang asli Papua terutama asli pegunungan tengah.

“Kur itu bahasa apa? Kata ibu Vennetie ini kur dalam bahasa pegunungan artinya seks bebas setelah perang. Tidak ada budaya masyarakat gunung seperti yang ibu ini maksudkan,” ujar Sekretaris II DAP, John NR Gobay kepada Jubi di Abepura, Rabu, (20/6/2018).

Oleh karena itu, Gobai dengan tegas meminta kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) agar segera memeriksa penyebar berita bohong (hoax) ini.

“Saya minta pak Kapolri periksa ibu ini. Ya, karena ini penghinaan bagi kami. Kur itu bahasa Ilaga dan Beoga, Amungme bilang Kud. Yang artinya salam, yang baku jepit jari baru kasih bunyi. Tidak ada kaitan sama sekali dengan seks. Sekali lagi, ini pelecehan bagi adat,” ungkapnya tegas.

Ketua umum KNPB Pusat, Victor Yeimo menegaskan, pernyataan tersebut merupakan intimidasi verbal paling sadis terhadap martabat orang asli Papua, sebab menurutnya stigma ini lebih bahaya dari intimidasi fisik.

“Ada yang tahu tradisi ini dari suku mana? Saya tidak pernah dengar tradisi Kur. Dinyatakan dengan sadar dan resmi oleh penguasa Indonesia. Inilah paradigma kolonialisme sesungguhnya pada bangsa Papua,” kata Yeimo.

Mantan Jubir KNPB Internasional ini mengatakan, penghinaan seperti ini diopinikan sengaja agar publik Indonesia menempatkan orang Papua sebagai manusia tak beradab dan biadab.

“Dari kanibal, gorila (monyet), hingga budaya pesta seks, semua dialamatkan pada bangsa Papua. Lantas, masih layakkah kita hidup bersama negara yang menempatkan kita jauh lebih buruk dari seekor binatang?. Mari kita bertindak,” katanya.

Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan, Vennetia R Dannes menegaskan hal itu salah dan merupakan satu kekerasan terhadap kaum perempuan. Tradisi kur yang dilakukan warga Papua bagian pegunungan jika mereka menang dalam sebuah peperangan dinilai melanggar Undang-undang.

Menurutnya kur adalah bahasa orang Papua bagian pegunungan, dan jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pesta seks.

"Ini bukan saja menyangkut kesalahan moral tetapi hal ini melanggar Undang-undang(UU)," ungkap Vennetia, Selasa 22 Mei 2018 dilansir sindonews.com. (*)


 

loading...

Sebelumnya

KPU Paniai bantah sebarkan isu HK-YT diakomodir

Selanjutnya

Legislator Papua: Masyarakat rindu perubahan dan pilkada damai

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe