Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Jawa
  3. “Drama” papa dan etika kedokteran
  • Minggu, 19 November 2017 — 18:31
  • 8758x views

“Drama” papa dan etika kedokteran

Jakarta, Jubi - Kasus hukum Ketua DPR RI Setya Novanto benar-benar drama. Ditetapkan sebagai tersangka korupsi proyek e-KTP pada Juli 2017 lalu, Novanto tak pernah menghadiri panggilan KPK. Ia bahkan menggugat penetapannya sebagai tersangka melalui proses praperadilan.
Setya Novanto. Tempo.co/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi - Kasus hukum Ketua DPR RI Setya Novanto benar-benar drama. Ditetapkan sebagai tersangka korupsi proyek e-KTP pada Juli 2017 lalu, Novanto tak pernah menghadiri panggilan KPK. Ia bahkan menggugat penetapannya sebagai tersangka melalui proses praperadilan.

Selama proses praperadilan berjalan, Setya Novanto tiba-tiba jatuh sakit. Ia dirawat di RS Premier, Jatinegara, Jakarta Timur. Macam-macam penyakit konon hinggap ditubuhnya: ginjal, diabetes, jantung, sampai tumor tenggorokan. Foto dirinya terkulai di atas ranjang rumah sakit menyebar. Tapi bukannya mengundang simpati, justru hujatan dan sindiran jenaka yang dituainya.

Jumat, 29 September 2017, Hakim Cepi Iskandar mengabulkan gugatan praperadilan Setya Novanto. Ia pun melepas statusnya sebagai tersangka. Setya Novanto sehat serta merta.

Pada 12 Oktober, dia sudah terlihat menghadiri Rapim Golkar. Ia bahkan membuat "gebrakan" dengan melaporkan pembuat meme saat dirinya sakit. Setnov juga melaporkan 25 penyidik KPK ke polisi.

KPK terus mengejar kasusnya sampai penetapan Novanto sebagai tersangka untuk kedua kalinya keluar pada bulan November. Ia lagi-lagi tak memenuhi panggilan KPK. Ketika hendak dijemput paksa oleh KPK pada Rabu (15/11), hasilnya nihil. Baru keesokan malamnya, kabar tragis soal Novanto membludak di media-media massa. Mobil yang mengangkutnya diberitakan menabrak tiang listrik di bilangan Jakarta Barat sehingga menyebabkan supir, ajudan, dan dirinya mengalami cedera.

Namun banyak pihak meragukan, sekaligus menertawakan banya fakta di balik insiden kecelakaan itu.

Musisi jazz sekaligus dokter, Tompi turut berkomentar. “Kl kepal kebentur, memar namun gak ada luka luar , trus diperban.... artinya dokternya perlu sekolah lagi. Dan dah pasti masuk neraka soalnya ikut2an ngibulL,” cuit musisi berdarah Aceh itu di Twitter, Jumat, 17/11/2017.

Diketahui, Novanto dilarikan ke RS Medika Permata Hijau. Dia ditangani oleh dr. Bimanesh Sutarjo, ahli penyakit dalam.

Sang dokter memberi keterangan bahwa Novanto mengalami cedera di pelipis sebelah kiri, lecet di leher dan lengan kanan, serta hipertensi berat. Sementara menurut pengacara Novanto, Fredrich Yunadi, lantaran mengalami cedera di bagian kepala, ada dugaan kliennya tersebut mengalami gegar otak.

Sebelum sempat menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut di RS Medika Permata Hijau, Novanto dipindahkan ke RSCM. KPK kini benar-benar awas. Pasang mata dan waspada.

Novanto dua kali berturut-turut menggunakan alasan kesehatan sehingga proses hukum terhadap dirinya terpaksa tertunda. Kecurigaan publik pun kian menanjak. dr. Bimanesh dan institusi tempatnya bekerja pun sempat menjadi sasaran kecurigaan ini. Jadwal praktik dr. Bimanesh tercatat hanya Rabu dan Kamis pukul 08.30-11.00, tetapi malam itu, ia bertugas menangani Novanto. Ia pun beralasan, jadwal praktik pada pagi hari tersebut hanya terkait profesinya sebagai dokter ginjal, selebihnya ia on call selama 24 jam, 7 hari seminggu.

Sedangkan terkait dirinya yang irit memberi informasi soal kesehatan Novanto, dr. Bimanesh mengatakan bahwa dokter tidak boleh melanggar sumpah jabatan dengan membeberkan rahasia kondisi pasien. Kewajiban dokter hanya menangani pasien sebaik mungkin, terlepas dari masalah apa pun yang sedang membelit pasien, demikian pendapat dr. Bimanesh.

dr. Priyo Sidipratomo, Ketua Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK) menjelaskan secara tertulis kepada Tirto bahwa dokter memang hanya bisa membuka informasi soal penyakit pasien setelah mendapat izin dari pasien atau atas perintah pengadilan.

Kendati kerahasiaan kondisi kesehatan menjadi hak pasien yang dijamin oleh para dokter, keputusan pengadilan yang tertinggi memungkinkan untuk dibukanya catatan medis si pasien.

Senada dengan dr. Priyo, praktisi hukum kesehatan, dr. Rani Tiyas Budiyanti, M.H. juga mengatakan bahwa data medis pasien hanya bisa dikemukakan bila ada surat resmi dari pihak penyidik.

“Rahasia kedokteran itu bisa dibuka untuk kondisi-kondisi tertentu,” katanya.

Katanya, ini ada di Permenkes No. 36 Tahun 2012, misalnya untuk keperluan asuransi. Kemudian, untuk kepentingan aparat penegak hukum. Untuk kepentingan penyidikan, data yang bisa diminta seperti visum, keterangan ahli, keterangan saksi, dan resume medis saja.

Misalnya, tentang diagnosisnya apa, kemudian terapinya apa. Permohonannya harus secara tertulis dari penyidik. Kalau untuk mengetahui rekam medis secara keseluruhan, harus dalam sidang pengadilan,” jabar dr. Rani.

Menurut dr. Priyo, bila dokter memberikan surat keterangan sakit palsu, ia dikatakan melanggar etika dan akan ada sanksi tertentu yang bentuknya ditentukan oleh sidang MKEK. Tidak hanya itu, ada sanksi pidana juga yang bisa dijatuhkan kepada dokter yang memberikan keterangan palsu karena terkait kapasitasnya sebagai saksi ahli, demikian ditambahkan dr. Rani. (*)

Sumber: Tirto.id/CNN Indonesia
 


 


 

loading...

#

Sebelumnya

Kampak desak polisi proses hukum Kadis Pendasbud Mimika

Selanjutnya

HUT ke 9 KNPB digelar dengan refleksi dan ibadah

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe