Pieter Tan Buka Sekolah Barista untuk Anak Petani Kopi di Wamena

share on:
Pak Maximus, petani kopi yang darinya kopi-kopi Wamena masyhur di seantero dunia - http://diasporaiqbal.blogspot.co.id
Pak Maximus, petani kopi yang darinya kopi-kopi Wamena masyhur di seantero dunia – http://diasporaiqbal.blogspot.co.id

Jayapura, Jubi – Pieter Tan, salah seorang pengusaha kopi di Provinsi Papua, membuka sekolah Barista (peracik minuman) khusus bagi anak-anak petani kopi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

“Sekolah Barista saya prioritaskan untuk anak-anak petani kopi di Wamena. Untuk anak-anak petani Wamena, biayanya gratis dan saya sudah siapkan tempat penginapan mereka. Jadi memang hanya anak-anak yang terpilih yang bisa belajar di sini,” ujarnya di Jayapura, Minggu (21/8/2016).

Ia menjaslakan bahwa kini di Wamena para petani sudah berumur di atas 50 tahun. Karenanya ia pun mendirikan sekolah tersebut agar ke depan ada yang mau meneruskan untuk menjadi petani kopi.

“Saya berpikir kalau mereka pensiun, kemudian anak-anak muda lebih tertarik jadi PNS atau pegawai swasta, jarang sekali yang mau jadi petani,” kata dia.

“Tujuan saya buat sekolah ini supaya anak-anak Wamena mereka bisa tertarik dan belajar kopi, dan ternyata didalamnya banyak hal baru yang menyenangkan. Dengan kopi ini dia bisa menghasilkan uang,” sambungnya.

Pieter pun menyebut bahwa proses pengajaran belum berjalan karena para pemuda di Wamena, baru saja selesai menyelenggarakan Festival Lembah Baliem.

“Saya belum buka pendaftaran karena masih tunggu pemuda dari Wamena. Siswa perkelas enam orang, sementara saya buka satu kelas dulu. Di sini kita lebih mengajarkan pengetahuan tentang kopi dan bagaimana mengesktraksinya, baik dengan mesin atau dengan alat manual,” katanya lagi.

Dia mengaku akan menyeleksi ketat siapa saja yang nantinya bisa bersekolah ditempatnya karena diperlukan dana yang cukup besar.

“Terus terang saya siapkan ini biayanya tidak murah dan semua gratis. Jadi saya hanya mau mengajar untuk anak-anak yang memang serius mau belajar kopi. Mereka akan belajar kurang lebih satu bulan dan mereka bisa langsung latihan di Pit’s Corner,” kata Pieter.

Menurutnya hingga kini masih sulit ditemukan tenaga peracik kopi/barista di Papua, dan hal ini juga yang ia lihat sebagai peluang untuk memberdayakan putra-putri asli Papua.

“Kalau mereka sudah memenuhi syarat saya akan tawarkan mereka ke hotel-hotel yang sudah jadi rekanan kami. Masih sangat sedikit barista di Papua, kebanyakan hotel punya kendala di situ,” ujarnya.

Produksi Kopi Wamena

Permintaan terhadap kopi Wamena cukup banyak di dunia, lanjut Pieter Tan yang lahir di Jayapura dan mengembangkan usaha Kopi Garuda Jayapura. “Dari luar negeri mereka minta dengan kuantitis cukup besar,” ujarnya.

Dia juga menyebutkan hingga kini jumlah produksi kopi Wamena, belum bisa memenuhi permintaan pasar, baik dari luar maupun dalam negeri.

“Kopi Papua saya jual di lokal Indonesia saja sudah tidak cukup, jadi tetap saya prioritaskan yang di Indonesia, kalau ada lebih baru saya kirim ke luar negeri,” katanya.

Menurut dia karena sistem perkebunan kopi di Wamena masih perkebunan rakyat, sedangkan komitmen ‘buyer’ dari luar negeri biasanya berbasis kontrak,  maka dengan kondisi produksi terbatas tersebut dirinya mengaku tidak berani kontrak.

Namun Pieter menyebut kini sudah ada peningkatan jumlah produksi kopi Wamena, namun angkanya ia perkirakan baru akan naik secara signifikan pada beberapa tahun ke depan.

“Jumlah produksi di Papua tidak tentu. Tahun ini agak bagus, hanya panennya belum selesai jadi kita belum dapat angka yang pasti. Tahun lalu hasil produksinya tidak sampai 40 ton,” ujarnya.

“Pemerintah cukup mendukung, jadi pemerintah ada kasih penyuluhan kepada petani kopi di Wamena. Sekarang ada penanaman terus, kita harapkan empat sampai lima tahun mendatang hasil produksinya sudah bisa meningkat,” sambungnya lagi.(*)

Editor : Zely Ariane
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Pieter Tan Buka Sekolah Barista untuk Anak Petani Kopi di Wamena